Dorong Swasembada Energi, ESDM Buka 110 Blok Migas dan Revitalisasi Sumur Tua

Oleh Desti Dwi Natasya pada 16 Feb 2026, 15:45 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa agenda swasembada energi harus diwujudkan melalui langkah konkret dan terobosan besar. Salah satu strategi yang disiapkan pemerintah adalah membuka tender 110 blok minyak dan gas (migas) baru guna menekan ketergantungan terhadap impor.

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil saat menghadiri Sidang Pleno XVIII Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (15/2/2026).

“Tidak mungkin kita berbicara swasembada energi tanpa keberanian melakukan terobosan. Ketergantungan impor justru menguntungkan pihak lain ketika kita tidak mampu berdiri di atas kaki sendiri,” ujar Bahlil di hadapan para pengusaha.

Ia menekankan, keberhasilan mewujudkan kemandirian energi memerlukan kombinasi antara percepatan eksekusi, pemanfaatan teknologi modern, serta kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku usaha.

Selain membuka wilayah kerja baru, pemerintah juga akan mengoptimalkan potensi sumur tua yang saat ini banyak tidak beroperasi. Dari sekitar 39.000–40.000 sumur migas yang ada, hanya sekitar 17.000–18.000 sumur yang aktif. Sisanya dalam kondisi idle akibat faktor usia dan keterbatasan teknologi.

“Sumur-sumur tua ini harus diintervensi dengan teknologi agar produksinya bisa kembali optimal,” jelasnya.

Di samping itu, percepatan pelaksanaan sumur yang telah memiliki Plan of Development (POD) juga menjadi fokus untuk mendongkrak lifting migas nasional.

Pada sektor hilir, Bahlil menyebutkan penguatan kapasitas kilang domestik mulai menunjukkan hasil positif. Salah satunya melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang telah diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 12 Januari 2026.

Menurutnya, operasional RDMP Balikpapan mampu menghasilkan sekitar 5 juta kiloliter (KL) bensin dan 3,9 juta KL solar. Dengan implementasi program B40, Indonesia disebut tidak lagi melakukan impor solar pada tahun ini.

“Ini pertama kalinya dalam sejarah kita tidak mengimpor solar,” tegas Bahlil.

Upaya ini sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya ketahanan energi nasional berbasis optimalisasi sumber daya dalam negeri, pengurangan ketergantungan asing, serta pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat.