JAKARTA, Cobisnis.com - Harga emas yang sebelumnya menunjukkan tren kenaikan signifikan kini justru mengalami penurunan tajam menjelang Idulfitri.
Padahal, logam mulia ini sempat diprediksi akan menembus angka Rp 3,5 juta per gram pada momen Lebaran tahun ini.
Namun, memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran justru memberikan tekanan besar pada harga emas. Dalam sepekan terakhir, harga emas tercatat turun sekitar Rp 103.000 per gram, dari posisi tertinggi Rp 2.996.000 pada 18 Maret menjadi Rp 2.893.000 per gram pada 21 Maret.
Selain penurunan tersebut, harga emas juga terus bergerak fluktuatif dan cenderung melemah sepanjang satu bulan terakhir sejak konflik di Timur Tengah semakin memanas. Kondisi ini cukup kontras mengingat sepanjang tahun 2025, harga emas sempat melonjak hingga 64% dan menjadi performa terbaik sejak 1979.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai situasi geopolitik yang tidak menentu menjadi salah satu pemicu utama. Ia menjelaskan bahwa konflik yang terjadi membuat arah kebijakan dan kondisi di Iran sulit diprediksi, sehingga menimbulkan keresahan di kalangan investor.
Akibat ketidakpastian tersebut, banyak investor memilih mengalihkan asetnya dari emas ke dolar AS yang dinilai lebih aman dalam kondisi saat ini. Pergeseran minat ini turut menekan harga emas di pasar.
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah kenaikan harga minyak dunia yang menembus US$ 112 per barel. Kenaikan ini berpotensi mendorong inflasi global, yang kemudian memicu kebijakan pengetatan suku bunga oleh bank sentral.
Dalam kondisi suku bunga tinggi, instrumen investasi berbasis bunga seperti obligasi dan deposito menjadi lebih menarik dibandingkan emas. Hal ini karena emas tidak memberikan imbal hasil tetap, sehingga cenderung ditinggalkan investor saat suku bunga naik.
Bank sentral global sendiri diketahui masih mempertahankan suku bunga dalam pertemuan terakhir, namun terdapat kemungkinan kenaikan pada periode berikutnya. Jika hal itu terjadi, tekanan terhadap harga emas diperkirakan masih akan berlanjut.