JAKARTA, Cobisnis.com – Tingkat pengangguran lulusan sarjana di Amerika Serikat kini melampaui rata-rata nasional, sebuah kondisi yang baru terjadi dalam lebih dari empat dekade terakhir.
Data dari Oxford Economics dan Federal Reserve Bank of New York menunjukkan, tingkat pengangguran lulusan usia 22–27 tahun mendekati 6%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tingkat pengangguran nasional sebesar 4,2%.
Fenomena ini menandai perubahan besar di pasar tenaga kerja. Selama ini, gelar pendidikan tinggi dianggap sebagai jaminan akses kerja yang lebih mudah.
Ekonom Matthew Martin menyebut kondisi ini sebagai momen bersejarah. Untuk pertama kalinya, lulusan sarjana menghadapi tingkat pengangguran yang lebih tinggi dibandingkan keseluruhan angkatan kerja.
Salah satu faktor utama adalah perlambatan rekrutmen di sektor teknologi. Industri ini sebelumnya menjadi penyerap besar tenaga kerja lulusan baru.
Perkembangan kecerdasan buatan atau AI juga ikut mengubah peta pekerjaan. Banyak posisi entry-level yang bersifat rutin kini mulai tergantikan oleh otomatisasi.
Akibatnya, peluang kerja untuk lulusan baru semakin terbatas. Perusahaan juga cenderung menahan ekspansi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Selain pengangguran, fenomena underemployment juga meningkat tajam. Angkanya mencapai 42,5%, tertinggi sejak tahun 2020.
Underemployment menunjukkan banyak lulusan bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan pendidikan atau di bawah kualifikasi mereka. Kondisi ini berdampak pada produktivitas dan pendapatan jangka panjang.
Situasi ini menjadi sinyal bahwa pasar kerja sedang mengalami pergeseran struktural. Keterampilan praktis dan adaptasi terhadap teknologi kini menjadi faktor kunci.
Di sisi lain, sistem pendidikan juga mulai dipertanyakan relevansinya. Kurikulum dinilai perlu menyesuaikan dengan kebutuhan industri yang terus berubah.
Fenomena ini berpotensi menjadi tren global, termasuk bagi negara berkembang. Dunia kerja semakin kompetitif dan tidak lagi hanya bergantung pada gelar akademik.
Ke depan, lulusan dituntut lebih fleksibel dan siap beradaptasi. Kemampuan teknis dan pengalaman praktis menjadi nilai tambah yang semakin penting.