JAKARTA, Cobisnis.com - Gempa bumi magnitudo 7,7 yang melanda Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), memberikan dampak besar terhadap aktivitas pendidikan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 1.378 sekolah terdampak bencana tersebut.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan bahwa pendataan kerusakan sekolah telah dilakukan oleh petugas gabungan di sejumlah wilayah terdampak.
"Untuk sektor pendidikan, kami akan menyampaikan sebanyak 1.378 sekolah terdampak. Sebanyak 177.678 siswa, 21.166 guru dan tenaga didik juga terdampak akibat gempa," ucap Berton kepada media , Sabtu (22/8/2026).
Dari jumlah tersebut, sebagian besar sekolah belum dapat menjalankan kegiatan belajar seperti biasa. Sebanyak 923 sekolah masih meliburkan siswa untuk sementara.
Selain itu, 35 sekolah menjalankan pembelajaran menggunakan ruang atau fasilitas darurat.
Sementara 171 sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh dan 30 sekolah lainnya sudah kembali melakukan kegiatan belajar secara normal.
"Sebanyak 923 sekolah libur sementara, 35 sekolah di ruang darurat, 171 sekolah belajar jarak jauh, dan 30 sekolah belajar normal," tutur Berton.
Dampak gempa juga terlihat pada sejumlah fasilitas pendidikan. BNPB mencatat 5.521 ruang kelas dan 502 bangunan pendukung sekolah mengalami kerusakan berat.
Pemerintah bersama kementerian, lembaga terkait, dan pemerintah daerah masih melakukan pendataan lanjutan.
Data tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan langkah perbaikan dan pemulihan fasilitas pendidikan di wilayah terdampak.
Sistem Pembelajaran Disesuaikan dengan Kondisi
Di tengah kondisi tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyiapkan panduan pembelajaran bagi sekolah yang berada di wilayah terdampak bencana.
Sekolah dapat menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi bangunan, ketersediaan sarana, keadaan siswa dan guru, serta situasi lingkungan di sekitar sekolah.
“Kami memastikan mereka tetap mendapatkan dukungan agar proses pembelajaran dapat terus berlangsung dan hak belajar murid tetap terpenuhi, meskipun berada dalam kondisi yang penuh keterbatasan," kata Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Toni Toharudin melalui keterangan tertulis, Kamis (20/8/2026).
Dalam situasi darurat, sekolah juga dapat memprioritaskan materi pembelajaran yang paling penting dan sesuai dengan kondisi peserta didik.
Selain kegiatan akademik, perhatian juga diberikan pada dukungan psikososial, keselamatan siswa, kemampuan literasi dan numerasi dasar, serta upaya mengembalikan rutinitas belajar.
Metode pembelajaran pun dapat disesuaikan dengan keadaan masing-masing sekolah, mulai dari tatap muka secara terbatas, pembelajaran mandiri, hingga metode lainnya yang memungkinkan diterapkan dengan fasilitas yang tersedia.