JAKARTA, Cobisnis.com – Harga minyak dunia kembali menguat hampir 3 persen pada perdagangan Selasa (24/3/2026), setelah pada hari sebelumnya sempat anjlok lebih dari 10 persen. Penguatan ini muncul di tengah kekhawatiran pasar atas pasokan energi global yang terancam ketidakpastian di Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak dipicu setelah Iran membantah adanya pembicaraan dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk. Bantahan ini berbeda dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump sebelumnya yang menyebut kesepakatan dengan Iran bisa segera tercapai.
Mengutip Reuters, minyak mentah Brent naik 2,89 dollar AS atau 2,9 persen menjadi 102,83 dollar AS per barrel pada pukul 14.10 WIB. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,49 dollar AS atau 2,8 persen ke level 90,62 dollar AS per barrel.
Penurunan harga minyak sehari sebelumnya terjadi setelah Trump menunda serangan terhadap fasilitas listrik Iran selama lima hari. Penundaan itu sempat menurunkan premi risiko perang pada harga minyak, namun pasar kini kembali waspada.
“Kenaikan moderat hari ini menunjukkan pasar sedang mencari pijakan. Meski rudal ditahan, Selat Hormuz masih jauh dari kondisi aman,” kata Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer.
Gangguan pasokan energi di Teluk telah menghentikan hampir seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia melalui Selat Hormuz. Meskipun demikian, beberapa kapal tanker menuju India dilaporkan berhasil melintas pada Senin.
Pemerintah Iran menolak klaim adanya komunikasi dengan Washington dan menyebutnya sebagai upaya manipulasi pasar. Garda Revolusi Iran juga mengaku telah menyerang target AS dan menilai pernyataan Trump sebagai “operasi psikologis yang sudah usang.”
Analis Macquarie Group memperkirakan harga minyak akan bertahan di kisaran 85–90 dollar AS per barrel, namun berpotensi kembali ke level 110 dollar AS per barrel jika gangguan Selat Hormuz belum pulih. Bahkan, jika jalur tersebut tetap terganggu hingga akhir April 2026, harga Brent berpotensi menyentuh 150 dollar AS per barrel.
Serangan terhadap infrastruktur energi Iran masih berlangsung. Kantor perusahaan gas dan stasiun pengurang tekanan di Isfahan dilaporkan terkena serangan, sementara pipa gas menuju pembangkit listrik di Khorramshahr juga dihantam proyektil.
Untuk meredakan kekurangan pasokan, AS sementara melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia dan Iran yang sudah berada di laut. Pasar kini menawarkan minyak Iran ke kilang India dengan harga premium terhadap acuan ICE Brent.
Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol, menyatakan pihaknya berkonsultasi dengan pemerintah Asia dan Eropa terkait kemungkinan pelepasan cadangan strategis tambahan. Sementara analis senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai pasar masih harus bersiap menghadapi disrupsi hingga April, yang menopang harga Brent sekaligus menjaga tekanan inflasi.