JAKARTA, Cobisnis.com – Honda Motor Co melaporkan kerugian besar pada tahun fiskal 2025. Produsen otomotif asal Jepang itu mencatat rugi bersih sebesar 423,94 miliar yen atau sekitar Rp42 triliun.
Kerugian tersebut menjadi yang pertama bagi Honda sejak perusahaan melantai di bursa saham pada 1957. Sebelumnya, Honda masih membukukan laba bersih 835,84 miliar yen pada tahun fiskal sebelumnya.
Pihak perusahaan menyebut besarnya investasi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) menjadi penyebab utama anjloknya performa keuangan. Honda memang tengah melakukan transformasi besar dalam bisnis otomotif ramah lingkungan.
Total kerugian yang berkaitan langsung dengan pengembangan EV mencapai 1,45 triliun yen hingga Maret 2025. Nilai tersebut mencerminkan tingginya biaya transisi teknologi di industri otomotif global.
Meski mengalami rugi bersih, Honda masih mencatat pertumbuhan pendapatan. Penjualan perusahaan naik tipis 0,5 persen menjadi 21,8 triliun yen.
Namun, Honda juga membukukan rugi operasional sebesar 414,35 miliar yen. Kondisi ini berbanding terbalik dengan laba operasional 1,21 triliun yen pada tahun sebelumnya.
Sebagai produsen mobil terbesar kedua di Jepang, Honda menghadapi tekanan besar akibat investasi jangka panjang di sektor EV. Persaingan kendaraan listrik global juga semakin ketat dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, Honda tetap optimistis menghadapi masa depan bisnisnya. Perusahaan menargetkan kembali mencetak laba pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2027.
Honda memproyeksikan laba bersih mencapai 260 miliar yen dan laba operasional sebesar 500 miliar yen. Selain itu, penjualan diperkirakan tumbuh 6,2 persen menjadi 23,15 triliun yen.
Perusahaan yakin investasi besar di sektor kendaraan listrik akan mulai memberikan hasil positif dalam beberapa tahun ke depan. Honda juga menilai transformasi menuju teknologi ramah lingkungan menjadi langkah penting untuk menjaga daya saing global.