Jamkrindo

IHSG Rontok 6,79 Persen Pagi Ini, Dampak MSCI Tunda Penyesuaian

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 28 Jan 2026, 10:31 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada pembukaan perdagangan pagi ini, Selasa (28/1). IHSG langsung terkoreksi dalam hingga 6,79% dan turun ke level 8.370.

Tekanan jual terjadi sejak menit awal perdagangan. Aksi lepas saham berlangsung masif dan merata, membuat pasar bergerak sangat volatil dalam waktu singkat.

Data perdagangan menunjukkan volume transaksi mencapai 4,52 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp2,95 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 238.195 kali.

Tekanan utama datang dari investor asing. Tercatat foreign net sell mencapai Rp5,63 triliun, mempertegas dominasi aksi jual pada sesi pagi.

Anjloknya IHSG dipicu oleh pengumuman terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Lembaga indeks global tersebut menyampaikan keputusan yang berdampak signifikan terhadap pasar saham Indonesia.

MSCI secara resmi membekukan penyesuaian free float saham Indonesia. Selain itu, MSCI juga meniadakan rebalancing indeks yang seharusnya dilakukan pada Februari 2026.

Dalam pengumumannya, MSCI menetapkan pembekuan atas seluruh kenaikan Free Float-adjusted Investable Factor (FIF) dan jumlah saham Indonesia. Kebijakan ini berlaku menyeluruh tanpa pengecualian sektor.

MSCI juga memastikan tidak akan ada penambahan saham Indonesia ke dalam indeks MSCI IMI. Tidak ada kenaikan klasifikasi ukuran saham, termasuk migrasi dari Small Cap ke Standard.

Keputusan tersebut dinilai menutup potensi aliran dana pasif dari investor global. Hal ini langsung direspons pasar dengan aksi jual, terutama pada saham-saham yang sebelumnya diharapkan masuk atau naik kelas indeks.

MSCI menilai investor global masih menyoroti isu transparansi kepemilikan saham di Indonesia. Lembaga tersebut akan meninjau ulang aspek aksesibilitas dan klasifikasi pasar Indonesia pada Mei 2026.

Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap defensif. Di tengah tekanan besar dan ketidakpastian, volatilitas pasar diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek.