Jamkrindo

MCorp Soroti Tantangan Global dan Peran AI dalam Outlook Industri Indonesia 2026

Oleh Dwi Natasya pada 28 Jan 2026, 13:36 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Tahun 2026 diproyeksikan menjadi fase penting bagi dunia usaha di Indonesia. Dinamika global yang kian menekan, percepatan pemanfaatan artificial intelligence (AI), serta perubahan struktur persaingan mendorong pelaku industri untuk meninjau ulang strategi bisnis, tidak hanya untuk jangka pendek, tetapi juga keberlanjutan ke depan.

Menjawab tantangan tersebut, MCorp menyelenggarakan MARKET-ing Outlook 2026: Industry Perspective, sebuah forum dialog lintas industri yang mempertemukan perwakilan asosiasi sektor strategis dengan media nasional. Forum ini bertujuan memetakan arah industri Indonesia sepanjang 2026, mengulas tantangan struktural sekaligus peluang strategis, dengan pendekatan lean dan agile sebagai kerangka adaptasi menghadapi perubahan.

Diskusi dibuka oleh Taufik, Group CEO of MCorp, dan menghadirkan pandangan dari berbagai asosiasi industri, mulai dari perbankan syariah, ritel global, teknologi digital, logistik, hingga manufaktur otomotif roda dua.

Taufik menilai bahwa 2026 menjadi momentum krusial bagi industri untuk membaca perubahan secara menyeluruh. Tantangan bisnis kini tidak lagi berdiri sendiri per sektor, melainkan saling berkaitan lintas industri, sehingga menuntut perusahaan memiliki pemahaman strategis terhadap arah besar perekonomian dan industri nasional.

“Forum ini merupakan kelanjutan dari Industry Outlook 2026, dengan format diskusi yang lebih fokus dan mendalam. Perubahan industri terjadi semakin cepat dan lintas sektor, sehingga pelaku usaha perlu memahami gambaran besar agar strategi yang dijalankan tetap relevan dan berkelanjutan,” ujar Taufik dalam forum yang digelar di Philip Kotler Theater Class, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Sejumlah pelaku industri sepakat bahwa lanskap 2026 akan diwarnai tekanan efisiensi, pergeseran perilaku pasar, serta pengaruh kuat faktor eksternal seperti regulasi, geopolitik, dan perkembangan teknologi, khususnya AI. Transformasi industri tidak lagi sebatas digitalisasi, melainkan mencakup penyesuaian strategi, operasional, dan tata kelola bisnis secara menyeluruh.

Dari sektor perbankan syariah, Executive Director Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) Herbudhi S. Tomo menyebut bahwa industri perbankan syariah memasuki 2026 dalam kondisi relatif stabil. Tantangan utamanya terletak pada penguatan fundamental bisnis di tengah dinamika ekonomi dan regulasi. Digitalisasi dinilai sebagai peluang, namun harus dibarengi tata kelola yang kuat serta diferensiasi yang jelas dari perbankan konvensional.

Sementara itu, dari sektor teknologi digital, CEO PT Cipta Teknologi International sekaligus perwakilan Indonesian Digital Association (IDA), Yogi Triharso, menilai bahwa adopsi AI akan semakin menentukan arah industri pada 2026. Selain mengubah pengalaman pengguna, AI juga mendorong industri untuk merumuskan model bisnis dan monetisasi yang berkelanjutan.

“AI tidak seharusnya dipandang hanya sebagai alat efisiensi, tetapi sebagai enabler yang memperkuat kapabilitas manusia dan mendorong keberlanjutan bisnis,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua Umum Bidang Maritim & Pelabuhan DPP ALFI/ILFA, Harry Sutanto. Ia menyoroti perubahan perdagangan global, ketegangan geopolitik, dan isu perubahan iklim sebagai tantangan struktural bagi industri logistik. Kondisi ini menuntut peningkatan fleksibilitas layanan, efisiensi operasional, serta kolaborasi lintas ekosistem.

Menurut Harry, liberalisasi industri logistik pasca pandemi, termasuk dibukanya kepemilikan asing hingga 100%, membuat persaingan semakin ketat dan bersifat red ocean. Oleh karena itu, strategi adaptif dan kolaboratif menjadi kunci menjaga ketahanan industri.

Dari sektor manufaktur otomotif roda dua, Head of Commercial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Sigit Kumala, menilai persaingan industri akan semakin padat seiring masuknya pemain baru. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas, dan keberlanjutan industri.

Sigit mencatat bahwa pada 2025 penjualan sepeda motor nasional tumbuh sekitar 1,3% dengan total penjualan 6,41 juta unit. Pertumbuhan di luar Jawa tercatat lebih tinggi dibandingkan wilayah Jawa yang cenderung stagnan. Kondisi ini, menurutnya, mendorong industri untuk tidak hanya mengejar volume, tetapi juga memperhatikan kesehatan ekosistem dan keberlanjutan lingkungan.

Tekanan eksternal diperkirakan akan semakin memengaruhi profitabilitas lintas sektor, mulai dari ketidakpastian global, perubahan regulasi, fluktuasi biaya operasional, hingga disrupsi teknologi. Situasi ini mendorong perusahaan untuk memperkuat ketahanan bisnis jangka panjang, bukan semata mengejar pertumbuhan agresif.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, MCorp juga menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) Program MBA Online Entrepreneurial Marketing bersama Asia e University (AeU). Penandatanganan dilakukan oleh Taufik dan Founder President of AeU, Prof. Dato’ Dr. Ansary Ahmed, sebagai komitmen bersama dalam pengembangan kepemimpinan dan pemasaran berbasis kewirausahaan.

Prof. Dato’ Dr. Ansary Ahmed menjelaskan bahwa Asia e University lahir dari semangat kolaborasi regional negara-negara Asia melalui pendidikan sebagai fondasi penguatan industri dan ekonomi. AeU berfokus pada pengembangan sumber daya manusia, kepemimpinan, serta pendidikan berkelanjutan di jenjang magister dan doktoral.

Ke depan, forum dialog ini akan digelar secara rutin setiap bulan sebagai wadah berkelanjutan untuk membahas dinamika industri, mempertemukan perspektif lintas sektor, serta menghadirkan insight strategis bagi pelaku usaha dan pemangku kepentingan.

Melalui inisiatif ini, MCorp menegaskan perannya sebagai penghubung dialog strategis antara industri dan media, sekaligus mendorong pemahaman bersama mengenai arah industri Indonesia di tengah perubahan global yang semakin kompleks.