JAKARTA, Cobisnis.com – IMAC Film Festival 2026 sukses memperkuat ekosistem industri kreatif, khususnya perfilman Indonesia. Festival ini turut mengangkat karya film pendek hasil kolaborasi Santri Film Festival (SANFFEST).
Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. IMAC 2026 digelar di Taman Ismail Marzuki dan FIB Universitas Indonesia pada 16–18 April 2026.
Festival ini merupakan hasil kolaborasi ILUNI UI FIB bersama Komunitas Suka Sinema. Kolaborasi ini menjadi ruang sinergi antara akademisi, alumni, dan pelaku industri kreatif.
Di FIB UI, IMAC 2026 menjadi wadah edukasi terkait proses adaptasi karya. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong penguatan kapasitas storytelling lintas platform.
Staf Ahli Kementerian Kebudayaan sekaligus Ketua Komite SANFFEST Neno Warisman menekankan pentingnya ruang kreativitas. Ia menyebut proses berkarya menjadi kunci dalam melahirkan pemimpin kreatif di masa depan.
Menurutnya, literasi tidak hanya berhenti pada membaca realitas. Namun, harus mampu diolah menjadi karya visual yang memiliki nilai dan makna.
Dalam festival ini, tiga film SANFFEST turut diputar dan mendapat respons positif. Film tersebut berjudul Tujuh Hari Setelah Bapak Berpulang, Iman dan Imam, serta Rajah Terakhir.
Ketua ILUNI UI FIB Visna Vulovik menyebut kolaborasi ini sebagai langkah strategis. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya mengapresiasi karya, tetapi juga membuka ruang diskusi kreatif.
IMAC 2026 juga menghadirkan talkshow tentang adaptasi karya sastra ke film. Diskusi ini membahas pentingnya menjaga nilai keberagaman dan memori budaya dalam karya audiovisual.
Selain itu, festival turut menghadirkan masterclass terkait penyutradaraan dan storytelling digital. Ke depan, kegiatan ini diharapkan mendorong lahirnya lebih banyak sineas muda dengan karya berkualitas.