JAKARTA, Cobisnis.com – Para pemimpin perusahaan minyak dan gas dunia memperingatkan potensi krisis energi global akibat perang Iran yang dinilai lebih serius dari yang terlihat di pasar saat ini.
Peringatan ini muncul dalam konferensi energi CERAWeek di Houston, di mana para eksekutif menilai gangguan pasokan minyak dan gas sudah mulai berdampak luas.
CEO ConocoPhillips Ryan Lance menyebut dunia tidak bisa kehilangan 8–10 juta barel minyak per hari tanpa konsekuensi besar bagi ekonomi global.
Selain itu, sekitar 20 persen pasokan gas alam cair (LNG) juga terancam, yang berpotensi memicu gangguan energi lintas kawasan dalam waktu singkat.
Situasi ini diperparah oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran, jalur vital distribusi energi dunia dari kawasan Teluk menuju pasar global.
Penutupan jalur ini membuat ekspor energi terganggu dan memicu efek domino di seluruh rantai pasok, mulai dari produksi hingga distribusi.
Analis bahkan menyebut kondisi ini sebagai krisis energi terburuk sejak embargo minyak Arab pada 1973, menandakan skala ancaman yang sangat besar.
Di sisi harga, minyak mentah AS melonjak 49 persen menjadi 99,64 dollar AS per barel sejak konflik dimulai pada akhir Februari.
Sementara itu, harga minyak Brent naik lebih dari 55 persen ke level 112,57 dollar AS per barel, tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Kenaikan harga ini tidak hanya berdampak pada pasar energi, tetapi juga mendorong inflasi global dan menekan daya beli masyarakat di berbagai negara.
Gangguan juga mulai terasa pada pasokan bahan bakar seperti avtur, diesel, dan bensin yang kini semakin terbatas di beberapa kawasan.
Beberapa negara bahkan mulai mengambil langkah darurat, seperti pembatasan distribusi bahan bakar dan penghentian ekspor produk minyak.
Di sisi industri, perusahaan migas mulai meminta perlindungan militer untuk menjaga aset mereka dari potensi serangan di kawasan konflik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko konflik tidak hanya berdampak pada geopolitik, tetapi juga langsung mempengaruhi stabilitas ekonomi global.
Jika konflik berlanjut, pemulihan pasokan energi diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan, memperpanjang tekanan terhadap pasar global.