JAKARTA, Cobisnis.com – Pasar tenaga kerja di United States yang sebelumnya mulai menunjukkan tanda stabil kini kembali menghadapi tekanan setelah konflik bersenjata antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu gangguan ekonomi global.
Penutupan jalur pelayaran strategis Strait of Hormuz membuat harga minyak melonjak tajam hingga di atas 100 dolar AS per barel, yang langsung berdampak pada kenaikan harga bahan bakar dan biaya distribusi di pasar domestik Amerika.
Ekonom menilai lonjakan harga energi memperbesar risiko inflasi sehingga perusahaan cenderung menunda perekrutan tenaga kerja baru karena ketidakpastian biaya operasional dan prospek pertumbuhan ekonomi.
Sepanjang 2025, ekonomi Amerika hanya menambah sekitar 116 ribu pekerjaan, jauh lebih rendah dibanding rata-rata tahunan sebelumnya, sehingga kondisi pasar kerja saat ini masih digambarkan stabil tetapi stagnan.
Kenaikan harga bensin yang mendekati 4 dolar AS per galon juga mulai menekan pengeluaran rumah tangga, padahal konsumsi masyarakat menyumbang sebagian besar aktivitas ekonomi nasional.
Lembaga internasional memperkirakan inflasi Amerika dapat naik ke 4,2 persen tahun ini, jauh di atas capaian Februari yang berada di level 2,4 persen.
Jika konflik berlangsung lebih lama dan harga minyak tetap tinggi, para analis memperingatkan potensi pemutusan hubungan kerja dapat kembali muncul pada paruh berikutnya tahun ini.