JAKARTA, Cobisnis.com – Tingkat inflasi tahunan di Amerika Serikat tercatat tetap berada di angka 2,4 persen pada bulan lalu berdasarkan data Indeks Harga Konsumen yang dirilis oleh Bureau of Labor Statistics.
Secara bulanan, harga-harga pada Februari naik sebesar 0,3 persen yang merupakan peningkatan lebih cepat dibandingkan kenaikan 0,2 persen pada Januari.
Data inflasi tersebut dikumpulkan sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran sehingga dampak konflik yang sedang berlangsung belum sepenuhnya tercermin dalam laporan ekonomi tersebut.
Konflik tersebut telah memicu lonjakan harga energi serta kenaikan harga bahan bakar yang mulai dirasakan masyarakat Amerika Serikat di berbagai wilayah.
Analis pasar dari TradeStation, David Russell, mengatakan kenaikan harga energi membuat kondisi ekonomi saat ini menjadi sulit diprediksi oleh investor maupun pembuat kebijakan.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah jalur pengiriman minyak dunia di Strait of Hormuz yang merupakan jalur utama ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia ke berbagai negara di dunia.
Selain faktor energi, kebijakan tarif impor yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mulai memengaruhi harga barang impor seperti pakaian dan perabot rumah tangga.