JAKARTA, Cobisnis.com – Jalan menanjak dan lari sama-sama menjadi pilihan olahraga kardio yang efektif untuk menjaga kebugaran tubuh. Namun, keduanya memberikan intensitas dan beban latihan yang berbeda.
Pelatih kebugaran sekaligus coach Tone House, Gab Reznik, CPT, mengatakan tidak ada satu jenis latihan yang mutlak lebih baik dibandingkan lainnya. Pilihan olahraga sebaiknya disesuaikan dengan tujuan, kondisi fisik, dan kemampuan tubuh.
Menurut Reznik, aktivitas fisik apa pun tetap lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali. Jalan menanjak maupun lari dapat meningkatkan aliran darah, menaikkan detak jantung, serta membantu meningkatkan kapasitas aerobik.
Jalan Menanjak Melatih Otot Kaki
Jalan di tanjakan tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan jantung. Aktivitas ini juga dapat melatih otot tubuh bagian bawah, terutama bokong, paha depan, paha belakang, dan betis.
Namun, manfaat tersebut lebih berkaitan dengan peningkatan daya tahan otot. Jalan menanjak tidak memberikan efek yang sama seperti latihan angkat beban dalam membangun massa otot dan meningkatkan kekuatan maksimal.
Semakin curam kemiringan permukaan yang dilalui, semakin besar pula kerja otot yang dibutuhkan. Tantangan latihan juga dapat ditingkatkan menggunakan rompi berbobot.
Meski demikian, latihan beban tetap lebih efektif jika tujuan utama seseorang adalah membangun massa otot atau meningkatkan kekuatan secara maksimal.
Lari Memberikan Intensitas Lebih Tinggi
Lari umumnya memberikan intensitas latihan yang lebih tinggi dibandingkan berjalan. Aktivitas ini dapat meningkatkan detak jantung dan membantu melatih daya tahan tubuh dalam waktu relatif lebih singkat.
Namun, intensitas yang lebih tinggi juga membuat tubuh menerima beban yang lebih besar. Karena itu, kemampuan fisik dan kondisi tubuh perlu diperhatikan sebelum memilih lari sebagai latihan rutin.
Jalan menanjak juga tidak bisa dianggap sebagai olahraga yang kurang efektif. Latihan dengan kemiringan tertentu dapat memberikan tantangan yang cukup berat, bahkan bagi seseorang yang sudah terbiasa berlari.
Sebagai contoh, berjalan selama 30 menit di treadmill dengan kemiringan 15 persen dan kecepatan sekitar 4,8 kilometer per jam dapat menjadi latihan yang cukup menantang.
Sesuaikan dengan Kondisi Tubuh
Bagi pemula, latihan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Salah satu pilihan adalah berjalan dengan kemiringan sekitar 2-3 persen menggunakan kecepatan yang nyaman.
Setelah tubuh mulai beradaptasi, intensitas latihan dapat ditingkatkan secara perlahan. Sebaiknya, peningkatan kecepatan atau kemiringan dilakukan secara bertahap dan tidak sekaligus.
Pada akhirnya, jalan menanjak dan lari sama-sama memiliki manfaat untuk kesehatan jantung, daya tahan tubuh, serta kebugaran secara keseluruhan.
Jika kondisi tubuh memungkinkan, kedua jenis olahraga tersebut juga dapat dikombinasikan dalam rutinitas latihan untuk mendapatkan manfaat yang lebih beragam.