JAKARTA, Cobisnis.com - Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.947 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026 pagi. Rupiah menguat 19 poin atau 0,11% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah terjadi ketika mata uang Asia bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,02%, peso Filipina naik 0,19%, dan yen Jepang menguat 0,02%.
Sementara itu, ringgit Malaysia melemah 0,04%, dolar Singapura turun 0,05%, dan won Korea Selatan terkoreksi 0,16%. Dolar Hong Kong tercatat bergerak datar.
Pergerakan berbeda terlihat pada mata uang utama negara maju yang dipantau. Euro Eropa melemah 0,07%, poundsterling Inggris turun 0,04%, dolar Australia terkoreksi 0,17%, dolar Kanada turun 0,03%, dan franc Swiss melemah 0,04%.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah pada perdagangan pagi belum menghilangkan tekanan dari dolar AS. Menurutnya, harga minyak mentah dan kondisi geopolitik masih menjadi perhatian pasar.
"Rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS seiring kenaikan kembali harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul pengerahan kapal induk ketiga oleh AS serta sinyal kemungkinan berlanjutnya serangan udara terhadap Iran," ujar Lukman.
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan karena dapat memengaruhi pergerakan rupiah. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pergerakan rupiah juga masih berada dekat dengan level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pada perdagangan pagi ini, rupiah berada 53 poin di bawah level tersebut.
Lukman memperkirakan rupiah masih akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar sepanjang perdagangan Jumat. Ia memproyeksikan rupiah berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Dengan kondisi tersebut, penguatan rupiah pada awal perdagangan belum serta merta mengubah gambaran tekanan eksternal yang masih dihadapi mata uang Garuda. Pasar masih mencermati perkembangan harga minyak dan situasi geopolitik sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.