Jordan Stolz Jadi Penyelamat Team USA Di Olimpiade Musim Dingin Milan Cortina

Oleh Zahra Zahwa pada 17 Feb 2026, 16:34 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Sensasi speed skating Amerika Serikat, Jordan Stolz, menunjukkan bagaimana cara menghadapi tekanan besar untuk menjadi penyelamat Team USA di Olimpiade Musim Dingin tahun ini.

Sorotan terhadap beban ekspektasi begitu besar, khususnya bagi atlet-atlet Amerika. Sejumlah nama seperti Ilia Malinin dan Mikaela Shiffrin disebut-sebut kesulitan mengatasi tekanan tersebut. Namun berbeda dengan mereka, Stolz justru tampil gemilang.

Dalam Olimpiade keduanya, atlet berusia 21 tahun itu sudah mengoleksi dua medali emas dari dua nomor yang diikutinya. Ia membuka penampilan dengan emas di nomor 1000 meter sekaligus mencetak rekor Olimpiade. Tak lama berselang, ia kembali merebut emas di nomor 500 meter dengan torehan rekor Olimpiade lainnya.

Prestasi itu menjadi ancaman serius bagi para rivalnya, mengingat Stolz masih berpeluang menambah dua emas individu lagi di ajang Olimpiade Musim Dingin Milan Cortina, masing-masing di nomor 1500 meter dan mass start. Sebelum berangkat ke Milan, Stolz sempat berbicara soal statusnya sebagai unggulan utama.

“Saya justru menyukainya. Lebih baik diburu daripada memburu. Kalau Anda diburu, itu berarti Anda melakukan sesuatu dengan benar dan sedang menang,” ujarnya.

Ucapan itu terbukti bukan sekadar omong kosong. Stolz mampu memeluk label favorit dan menjadikannya sebagai kekuatan. Perjalanan kariernya bahkan berawal sederhana, belajar skating di danau beku di belakang rumah masa kecilnya.

Berpikir Logis Dan Percaya Proses

Kepercayaan diri Stolz lahir dari pengulangan dan kerja keras. Ia percaya, semakin banyak jam latihan yang ia habiskan, semakin kecil alasan untuk merasa khawatir. Pola pikir ini membuatnya mampu tampil tenang di panggung sebesar Olimpiade.

“Ini tidak berbeda dengan lomba lainnya. Hanya saja Anda menunggu empat tahun untuk kembali ke sini dan hanya punya satu kesempatan untuk bertarung,” katanya usai meraih emas pertamanya.

Bagi Stolz, momen tersebut adalah perasaan yang tak tergantikan.

Karier Cemerlang Sejak Remaja

Meski masih muda, Stolz sudah mendominasi dunia speed skating selama beberapa tahun terakhir. Pada 2023, saat masih berusia 18 tahun, ia menjadi juara dunia termuda di nomor 500 meter.

Ia juga menjadi atlet pertama dalam lebih dari 40 tahun yang mampu menjuarai level junior dan senior dunia di musim yang sama, menyamai pencapaian Beth Heiden dan Eric Heiden. Sebelum meraih dua emas Olimpiade di Milan, Stolz sudah lebih dulu menjadi juara dunia dua kali di nomor 500m, 1000m, dan 1500m, serta memegang rekor dunia nomor 1000m.

Tak heran ia mulai dibandingkan dengan Eric Heiden, legenda yang meraih lima emas di Olimpiade Musim Dingin 1980. Namun Stolz tetap rendah hati. Ia sadar persaingan di level tertinggi sangat ketat, termasuk dengan bintang Belanda Jenning de Boo, yang dua kali finis kedua di belakangnya meski juga memecahkan rekor Olimpiade sebelumnya. De Boo mengakui rasa frustrasi sekaligus apresiasinya terhadap Stolz.

“Ini menyenangkan bagi penonton, tapi cukup membuat frustrasi bagi saya. Dia membantu saya mencapai level lebih tinggi,” ujar De Boo.

Dominasi Stolz bahkan membuat penggemar Belanda menjulukinya “Straaljager” atau “Jet Tempur,” karena kecepatannya yang luar biasa di lintasan.

Meski terlihat tenang, Stolz mengaku tetap merasakan gugup, terutama saat tampil di nomor 1000 meter yang selama ini menjadi andalannya. Namun setelah berhasil meraih emas dan mencetak rekor, ia mampu lebih rileks menikmati momen. Di tengah performa Team USA yang tidak sepenuhnya mulus di Olimpiade Musim Dingin kali ini, Jordan Stolz muncul sebagai sosok penyelamat dan simbol harapan baru olahraga Amerika Serikat.