JAKARTA, Cobisnis.com - Banyak perusahaan besar di Jepang secara bersamaan melaporkan insiden keamanan siber serius selama seminggu terakhir, yang menempatkan jutaan catatan data pelanggan mengalami risiko kebocoran, termasuk informasi pribadi, alamat email, dan beberapa data kartu pembayaran.
Pada tanggal 7 Oktober, IDC Frontier, anak perusahaan SoftBank Group yang khusus menyediakan layanan komputasi awan untuk bisnis dan pemerintah daerah, mendeteksi ransomware yang menyusup ke sistemnya di Wilayah 1 Jepang Timur.
Dilansir dari vietnam.vn, Sabtu (10/10/2026), perusahaan tersebut segera memutus jaringan untuk mencegah risiko penyebaran lebih lanjut. Insiden tersebut memengaruhi empat area layanan dengan total 495 pelanggan bisnis dan instansi pemerintah.
IDC Frontier memperingatkan bahwa peluang untuk memulihkan data dari sistem yang terenkripsi sangat rendah, dan terus memperbarui situasi tersebut dari tanggal 7 hingga 9 Oktober.
Adapun beberapa layanan yang menggunakan infrastruktur perusahaan juga terpengaruh. Di antaranya, situs pemesanan tiket kereta api online Ekinet milik East Japan Railway Company (JR East) yang memiliki 1,67 juta alamat email yang berisiko diretas.
Selain itu, layanan keanggotaan "Otona no Kyujitsu Club" memiliki sekitar 390.000 catatan pelanggan, termasuk beberapa informasi kartu kredit, yang mungkin telah diakses secara ilegal.
Sementara itu, Book-Off Group Holdings mengumumkan bahwa sistem manajemen keanggotaan anak perusahaannya telah diretas, yang berpotensi menyebabkan kebocoran hingga 6,43 juta data pelanggan.
Data yang mungkin terpengaruh meliputi nama lengkap, tanggal lahir, alamat, dan nomor telepon.
Pada saat yang sama, jaringan minimarket Lawson dan operator karaoke Daiichi Kosho juga mengumumkan pelanggaran data, yang mengindikasikan peningkatan serangan siber yang menargetkan bisnis ritel dan jasa di Jepang.
Investigasi masih berlangsung, dan perusahaan sedang dalam proses memberi tahu pelanggan yang terdampak.
Hingga saat ini, belum ada kelompok peretas yang mengaku bertanggung jawab, dan belum ada kelompok yang diidentifikasi oleh pihak berwenang Jepang sebagai pelaku serangan digital tersebut.