Kaki Bau Bisa Dipicu Banyak Faktor, Begini Cara Mengatasinya

Oleh Hidayat Taufik pada 24 Oct 2026, 12:20 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Bau kaki kerap muncul setelah seseorang beraktivitas seharian, terutama saat mengenakan sepatu dan kaus kaki dalam waktu lama. Namun, kondisi ini tidak selalu disebabkan oleh kebersihan kaki yang kurang terjaga.

Produksi keringat berlebih, pertumbuhan bakteri, infeksi jamur, hingga masalah kesehatan tertentu dapat memicu bau tidak sedap. Karena itu, penting untuk mengenali penyebabnya agar penanganan yang dilakukan sesuai.

Dalam dunia medis, bau kaki dikenal sebagai bromodosis. Kondisi ini terjadi ketika bakteri pada kulit dan sepatu menguraikan keringat, kemudian menghasilkan senyawa yang menimbulkan aroma tidak sedap.

Dokter spesialis perawatan kaki Joy Rowland, DPM, menjelaskan bahwa bakteri dan jamur mudah berkembang di lingkungan yang hangat, lembap, dan minim cahaya.

“Bakteri, jamur, dan berbagai mikroorganisme kecil lainnya sangat menyukai kondisi yang hangat, lembap, dan gelap, dan bagian dalam sepatu Anda adalah tempat yang paling ideal untuk itu,” katanya.

Penyebab Kaki Bau

Salah satu pemicu utama bau kaki adalah produksi keringat yang berlebihan. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh cuaca, aktivitas fisik, jenis alas kaki, faktor keturunan, perubahan hormon, kondisi kesehatan, hingga tingkat stres.

Jika kaki terus mengeluarkan keringat dalam jumlah berlebih, termasuk saat tidak banyak beraktivitas, kondisi tersebut bisa berkaitan dengan hiperhidrosis atau gangguan produksi keringat.

Selain itu, infeksi jamur seperti athlete's foot juga dapat menyebabkan bau tidak sedap. Risiko infeksi meningkat ketika kaki berada di lingkungan hangat dan lembap, misalnya di ruang ganti.

Infeksi bakteri turut menjadi penyebab yang perlu diwaspadai, terutama jika terdapat luka, lepuhan, kuku yang tumbuh ke dalam, atau bagian kulit yang terinfeksi.

Masalah kesehatan tertentu juga bisa memengaruhi aroma kaki. Gangguan ginjal dan hati, misalnya, dapat menyebabkan penumpukan zat sisa ketika kedua organ tersebut tidak berfungsi optimal.

Di sisi lain, diabetes dapat memengaruhi produksi keringat dan mengurangi kemampuan seseorang merasakan luka pada kaki. Luka yang tidak disadari berisiko berkembang menjadi infeksi.

Penggunaan obat tertentu juga dapat meningkatkan produksi keringat atau mengubah bau tubuh. Jika perubahan bau kaki muncul setelah mengonsumsi obat, sebaiknya konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter.

Cara Mengurangi Bau Kaki

Pemilihan kaus kaki dan sepatu yang tepat dapat membantu mengendalikan kelembapan. Rowland menyarankan penggunaan bahan yang mendukung sirkulasi udara dan membantu keringat menguap.

Kaus kaki berbahan katun, wol yang mampu menyerap kelembapan, atau bahan sintetis khusus dapat menjadi pilihan. Sepatu juga perlu dikeringkan sebelum digunakan kembali.

Menggunakan dua pasang sepatu secara bergantian bisa memberikan waktu bagi masing-masing sepatu untuk mengering. Kebiasaan ini membantu mengurangi penumpukan keringat dan bakteri akibat pemakaian berulang.

Rowland juga menyarankan pemilihan sepatu berbahan alami, seperti katun atau kulit, yang memungkinkan kelembapan lebih mudah menguap.

“Bahan-bahan alami ini memungkinkan kelembapan pada kaki Anda menguap. Bahan buatan manusia, seperti nilon atau plastik, justru memerangkap kelembapan,” ujarnya.

Selain memilih alas kaki yang tepat, menjaga kebersihan kaki tetap menjadi langkah penting. Kaki sebaiknya dibersihkan secara teratur dan dikeringkan dengan baik, terutama di sela-sela jari.

Apabila bau tidak kunjung hilang meskipun kebersihan sudah terjaga, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan medis diperlukan jika bau terus berulang atau disertai luka maupun tanda infeksi agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.