JAKARTA, Cobisnis.com - Industri pakaian jadi dalam negeri mulai merasakan tekanan serius dari sisi pasokan. Kain tenun, kain rajut, dan benang filament semakin sulit didapat, sementara permintaan ritel masih normal.
Sekjen AIKMI Muhammad Arif Nasution menyebut masalahnya bukan cuma soal harga. Ketersediaan bahan baku ikut terganggu dan mulai menghambat produksi.
"Permintaan di ritel masih lumayan, hanya saja produksi kami mulai bermasalah karena sulit mendapatkan kain tenun dan kain rajut," ujar Arif, Senin (4/5/2026).
Pengurus P4B, Rudy Irawan, menyebut kain rajut jenis tetoron cotton atau TC kini makin sulit diperoleh. "PO kami tidak diproses karena pabrik rajutnya masih menunggu bahan baku dari pabrik benang," katanya.
Di Majalaya kondisinya tidak kalah berat. Ketua Paguyuban IKM Konveksi Majalaya, Deden Sudrajat, bilang pelaku industri kecil kesulitan dapat benang filament jenis DTY.
"Mesin-mesin tenun di Majalaya semakin banyak yang menganggur karena tidak ada bahan baku," ujar Deden.
Dari sisi hulu, Sekjen APSyFI Farhan Aqil Syauqi menjelaskan kapasitas produksi benang polyester nasional anjlok dari 1,6 juta ton menjadi sekitar 800 ribu ton. Angka itu pun masih harus dibagi antara serat pendek dan benang filament.
Penurunan ini dipicu berhentinya operasi polimerisasi di empat perusahaan dalam dua tahun terakhir. Produsen aktif pun kini hanya bisa melayani pelanggan lama.
Farhan juga menyoroti penolakan pemerintah atas Bea Masuk Anti Dumping atau BMAD terhadap impor benang filament China, padahal KADI sudah temukan indikasi dumping. Konflik di Selat Hormuz justru bikin harga impor polyester makin mahal.
Ia meminta pemerintah segera ambil langkah strategis sebelum industri tekstil nasional makin terpuruk.