Kemenhan Buka Suara soal Kapal Haji Isam dan Logo Resmi di Lambungnya

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 16 Aug 2026, 09:57 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Kementerian Pertahanan atau Kemenhan buka suara soal penggunaan logo kementerian pada kapal pesiar milik pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Samsudin Arsyad atau Haji Isam. Kapal tersebut merupakan milik Jhonlin Marine Transport.

Kapal bernama J7 Explorer itu menjadi perhatian setelah logo resmi Kemenhan terlihat pada bagian lambung kapal. Kapal tersebut kemudian menjadi perbincangan di media sosial.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemenhan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait mengatakan kapal swasta tersebut dikerahkan untuk mendukung operasi dan logistik program strategis nasional. Salah satunya untuk mempercepat program ketahanan pangan di sejumlah wilayah Indonesia.

"Pemanfaatannya diarahkan penuh untuk menyokong kerja besar negara dalam mewujudkan swasembada pangan," kata Rico dalam keterangan tertulis, dikutip dari beberapa sumber, Minggu (16/08/2026)

Rico menjelaskan penggunaan logo Kemenhan pada kapal tersebut berkaitan dengan aktivitas operasional armada. Logo itu menandakan kegiatan kapal berada di bawah otoritas dan penugasan pemerintah.

Kapal J7 Explorer digunakan untuk mendukung mobilisasi kebutuhan program ketahanan pangan di sejumlah wilayah. Beberapa lokasi yang disebut antara lain Wanam, Papua Selatan, serta wilayah Kalimantan dan Sumatera.

Dalam keterangan terpisah, Haji Isam membenarkan bahwa kapal tersebut merupakan miliknya. J7 Explorer memiliki bobot 8.076 GT, dibangun di Batam, dan selesai pada 2022.

Haji Isam mengatakan kapal tersebut kemudian diubah menjadi kapal induk atau pangkalan bergerak untuk mendukung proyek pencetakan sawah skala besar di Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Menurutnya, kapal tersebut dibutuhkan karena kondisi geografis Papua Selatan yang terisolasi dan minim infrastruktur darat.

Kapal itu juga digunakan sebagai pusat koordinasi, tempat tinggal sementara tenaga ahli, serta titik tumpu rantai logistik selama proyek berlangsung. Haji Isam menyebut keterlibatan kapal miliknya merupakan bagian dari dukungan swasta terhadap agenda ketahanan pangan pemerintah.

"Sekitar 2.000 ekskavator didatangkan dari China. Selain itu, tenaga ahli dari China, Jepang, dan Eropa juga dilibatkan untuk mendukung pekerjaan di lapangan," kata Isam.

Menurut Haji Isam, keterlibatannya dalam proyek tersebut tidak semata berkaitan dengan kepentingan bisnis. Ia menyebut dukungan itu sebagai bentuk tanggung jawab dalam menjalankan amanah negara.

Proyek pencetakan sawah di Merauke diharapkan dapat memperkuat stok pangan nasional sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat Papua. Penggunaan kapal J7 Explorer menjadi salah satu dukungan logistik untuk menjalankan kegiatan di wilayah tersebut.