JAKARTA, Cobisnis.com - Korban meninggal akibat gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur atau NTT bertambah menjadi 105 orang. Data tersebut disampaikan Kementerian Kesehatan pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Agus Jamaludin mengatakan sebanyak 385 orang mengalami luka berat dan harus menjalani perawatan inap. Sementara korban luka ringan atau rawat jalan mencapai sekitar 1.247 orang.
"Korban meninggal 105 orang, luka ringan atau rawat jalan kurang lebih 1.247 orang, luka berat atau rawat inap mencapai 385 orang, pengungsi juga 185 ribu lebih," kata Agus dalam konferensi pers.
Total penduduk yang terdampak gempa mencapai 1.917.732 orang. Proses pendataan korban dan penanganan dampak gempa masih terus dilakukan di sejumlah wilayah terdampak.
Korban meninggal tersebar di tujuh kabupaten. Kabupaten Manggarai mencatat jumlah korban terbanyak dengan 41 orang, disusul Manggarai Timur sebanyak 36 orang.
Kabupaten Nagekeo mencatat 13 korban meninggal, Sikka 6 orang, Ngada 5 orang, Ende 3 orang, serta Manggarai Barat 1 orang. Data tersebut menjadi bagian dari pendataan yang masih terus diperbarui pemerintah.
Kemenkes juga mencatat kondisi pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan. Sebanyak 11 pasien masuk kategori merah, 55 pasien kategori kuning, 11 pasien kategori hijau, dan satu pasien kategori hitam.
Selain korban akibat langsung gempa, layanan kesehatan juga menghadapi berbagai penyakit yang muncul selama periode 15 hingga 25 Agustus. Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA menjadi kasus terbanyak dengan 9.668 kasus yang tersebar di tujuh kabupaten.
Kasus lainnya meliputi hipertensi sebanyak 4.686 kasus, myalgia 1.017 kasus, trauma 662 kasus, diare atau GEA 627 kasus, dan gastritis 571 kasus. Terdapat pula 487 kasus dispepsia serta 35 kasus gigitan hewan penular rabies.
Kementerian Kesehatan masih berupaya memperbaiki layanan kesehatan di wilayah terdampak. Penanganan dilakukan untuk memastikan korban luka dan masyarakat terdampak tetap mendapatkan layanan medis di tengah kondisi pascagempa.