Kemenkes Imbau Vaksinasi saat Kasus ISPA Lansia Tembus 2,4 Juta

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 25 Sep 2026, 11:08 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai peningkatan kasus influenza, terutama pada kelompok yang berisiko mengalami komplikasi berat. Lansia menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian karena penurunan fungsi organ dan tingginya penyakit penyerta.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan influenza pada lansia tidak boleh dianggap sebagai penyakit musiman biasa. Infeksi tersebut dapat berkembang menjadi komplikasi serius, termasuk pneumonia.

“Lansia merupakan kelompok usia yang paling rentan terhadap penyakit pernapasan karena sistem imun yang melemah, fungsi organ yang menurun, serta adanya penyakit penyerta,” kata Imran dalam keterangan tertulis, Kamis (24/9/2026).

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sejumlah penyakit cukup banyak ditemukan pada lansia. Di antaranya hipertensi dengan prevalensi 63,5%, obesitas 14,1%, diabetes 5,7%, pneumonia 5,6%, dan ISPA 4,6%.

Kondisi tersebut dapat memperbesar risiko ketika lansia terkena influenza. Penurunan fungsi paru dan jantung membuat tubuh lebih sulit menghadapi tekanan akibat infeksi saluran pernapasan.

Data Cek Kesehatan Gratis 2025 yang mencakup sekitar 7 juta lansia juga menunjukkan sejumlah faktor risiko. Hampir seluruh lansia tercatat kurang melakukan aktivitas fisik, lebih dari sepertiga mengalami obesitas sentral, dan sekitar sepertiga lainnya mengalami gangguan kognitif.

Imran menjelaskan influenza dan ISPA merupakan dua istilah yang berbeda. ISPA merupakan istilah umum untuk berbagai infeksi saluran pernapasan, sedangkan influenza merupakan salah satu penyakit yang termasuk dalam kategori tersebut.

ISPA dapat disebabkan berbagai virus seperti influenza, RSV, adenovirus, dan rhinovirus. Sejumlah bakteri serta faktor lingkungan seperti polusi udara dan asap rokok juga dapat berperan.

Sementara itu, influenza secara khusus disebabkan oleh virus influenza. Gejalanya dapat berupa demam yang muncul mendadak, batuk, nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan, pilek, dan rasa lelah.

“Influenza termasuk dalam kategori ISPA, tetapi tidak semua ISPA adalah influenza,” jelas Imran.

Secara global, WHO memperkirakan influenza musiman menyebabkan sekitar 3 juta hingga 5 juta kasus penyakit berat dan 290 ribu hingga 650 ribu kematian akibat gangguan pernapasan setiap tahun. Kelompok usia lanjut termasuk yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit berat.

Di Indonesia, data nasional Januari hingga Agustus 2026 mencatat lebih dari 2,4 juta kasus ISPA pada lansia. Polanya meningkat pada awal tahun, menurun pada pertengahan tahun, kemudian kembali naik pada Agustus.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah laporan mengenai peningkatan kasus influenza A, termasuk subtipe H3N2 yang belakangan disebut “superflu” di media. Wilayah dengan jumlah penduduk besar seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Banten mencatat jumlah kasus lansia yang tinggi.

Kemenkes mendorong perlindungan bagi kelompok rentan, termasuk melalui vaksinasi influenza. WHO menyebut vaksinasi sebagai salah satu cara utama mencegah influenza dan merekomendasikan pemberian setiap tahun karena kekebalan dapat menurun seiring waktu serta virus influenza terus mengalami perubahan.

Pada lansia, vaksinasi tidak selalu sepenuhnya mencegah infeksi. Namun, vaksin dapat membantu mengurangi keparahan penyakit serta risiko komplikasi dan kematian.

Selain lansia, kelompok yang berisiko mengalami komplikasi influenza mencakup orang dengan penyakit kronis, ibu hamil, anak kecil, serta orang dengan kondisi yang menyebabkan daya tahan tubuh menurun.

“Perlindungan terhadap lansia menjadi sangat penting. Vaksinasi influenza tahunan harus diperluas, terutama di wilayah padat penduduk,” kata Imran.

Selain vaksinasi dan deteksi dini, Kemenkes menekankan pentingnya dukungan lingkungan. Ketersediaan air yang cukup, ventilasi rumah yang baik, serta lingkungan yang nyaman bagi lansia menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko komplikasi penyakit pernapasan.

“Perlindungan terhadap lansia membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Dengan vaksinasi, perhatian keluarga, dan dukungan komunitas, lansia dapat tetap sehat, mandiri, dan produktif,” pungkasnya.