Kenali 7 Ciri Haus Validasi yang Bisa Ganggu Kepercayaan Diri

Oleh Hidayat Taufik pada 21 Jun 2026, 09:00 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com — Mendapat apresiasi dan merasa dihargai menjadi kebutuhan yang wajar bagi banyak orang. Namun, kondisi itu bisa berubah ketika rasa percaya diri sepenuhnya bergantung pada penilaian orang lain.

Validasi merupakan bagian alami dari kehidupan sosial. Meski begitu, kebutuhan tersebut dapat menjadi masalah jika seseorang terus mencari pengakuan untuk merasa cukup dan berharga.

Kondisi ini sering disebut sebagai ketergantungan validasi. Karena itu, penting mengenali tanda-tandanya sejak awal.

1. Selalu ingin dipuji

Pujian dapat memberikan rasa senang dan menambah semangat. Namun, orang yang terlalu bergantung pada validasi sering hanya merasa tenang untuk sementara.

Setelah itu, keraguan terhadap diri sendiri kembali muncul. Akibatnya, mereka terus mencari pengakuan berikutnya.

2. Nilai diri bergantung pada pendapat orang lain

Sebagian orang menilai dirinya dari respons lingkungan. Mereka merasa percaya diri saat mendapat persetujuan.

Sebaliknya, rasa percaya diri mudah turun ketika pengakuan tidak datang.

3. Sering meminta kepastian berulang kali

Orang dengan kebutuhan validasi tinggi sering meminta konfirmasi terus-menerus. Mereka ingin memastikan tindakan dan keputusan mereka diterima.

Selain itu, mereka juga sering mempertanyakan apakah dirinya masih dianggap cukup baik.

4. Emosi mudah dipengaruhi media sosial

Likes, komentar, dan jumlah interaksi dapat memengaruhi suasana hati. Di sisi lain, respons yang rendah sering memicu rasa kecewa.

Karena itu, media sosial sering menjadi alat ukur nilai diri.

5. Mudah membandingkan diri dengan orang lain

Perhatian yang diterima orang lain sering menjadi bahan perbandingan. Akibatnya, seseorang merasa kurang dihargai.

Sementara itu, kebiasaan tersebut dapat memicu rasa iri dan tidak puas.

6. Sulit mengambil keputusan sendiri

Sebagian orang merasa tidak nyaman tanpa persetujuan orang lain. Mereka terus mencari pendapat sebelum menentukan pilihan.

Kebiasaan ini dapat muncul dalam keputusan kecil hingga keputusan penting.

7. Sangat sensitif terhadap kritik

Kritik sering dianggap sebagai bentuk penolakan pribadi. Namun, masukan sebenarnya dapat membantu proses evaluasi.

Ketika seseorang terlalu bergantung pada validasi, kritik terasa lebih menyakitkan dari yang seharusnya.

Ketergantungan pada pengakuan bukan berarti seseorang lemah. Meski begitu, kondisi ini dapat menjadi sinyal bahwa rasa percaya diri masih terlalu bergantung pada faktor eksternal.

Membangun kepercayaan diri dari dalam diri dapat membantu seseorang lebih tenang menghadapi penilaian orang lain.