Kisah Sukses SPPG di Sumba dan Tasikmalaya, Dorong Gizi Anak hingga Ekonomi Desa

Oleh Dwi Natasya pada 19 Mar 2026, 20:29 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Program Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di sejumlah daerah mulai menunjukkan dampak positif, tidak hanya bagi pemenuhan gizi anak, tetapi juga dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Di tengah upaya Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat standar mutu layanan, sejumlah SPPG justru berhasil menjadi contoh keberhasilan program yang terintegrasi dengan masyarakat sekitar.

Salah satu kisah datang dari SPPG Kadi Wano di Wewewa Timur, Sumba Barat Daya. Di bawah kepemimpinan Edwin Putra Kadege, SPPG ini mampu menghadirkan menu makanan yang dinanti oleh para siswa. Kehadiran program ini turut meningkatkan semangat anak-anak untuk bersekolah, terutama bagi mereka yang sebelumnya sering datang tanpa sarapan.

Temuan tersebut sejalan dengan hasil riset Research Institute Of Socio-Economic Development (RISED) terkait dampak awal Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Direktur RISED, M. Fajar Rachmadi, menyebutkan bahwa sekitar 50 persen orang tua melihat anak mereka lebih ceria, sementara 48 persen menilai anak menjadi lebih jarang sakit setelah menerima manfaat program.

Tak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, SPPG juga berperan dalam menggerakkan ekonomi lokal. Di Sumba, kebutuhan bahan pangan seperti sayur-mayur dipasok langsung oleh petani setempat, sehingga menciptakan perputaran ekonomi yang berkelanjutan. Petani kini memiliki kepastian pasar karena SPPG bertindak sebagai pembeli utama hasil panen mereka.

Hal serupa juga terlihat di SPPG Cibuntu, Kecamatan Taraju, Tasikmalaya. Dengan tingkat pemenuhan pangan lokal mencapai 85 persen, SPPG ini menggandeng berbagai elemen masyarakat, mulai dari petani, pedagang pasar, hingga karang taruna untuk membangun ekosistem pangan yang kuat.

Menurut mitra SPPG Cibuntu, Tino Rirantino, kehadiran program ini bahkan mendorong perubahan pola tanam petani. Jika sebelumnya buah harus didatangkan dari luar daerah, kini petani lokal mulai menanam sendiri agar hasilnya dapat diserap langsung oleh SPPG.

Selain aspek ekonomi, keberhasilan SPPG juga ditentukan oleh konsistensi dalam menjaga kualitas layanan. Pengelola dituntut untuk memastikan kebersihan dapur, kualitas bahan baku, serta keseimbangan nutrisi sesuai kebutuhan anak. Kreativitas dalam menyusun menu berbasis selera lokal juga menjadi kunci agar makanan dapat diterima dengan baik.

Kolaborasi dengan pihak sekolah turut memperkuat implementasi program. Guru dilibatkan dalam proses distribusi untuk memastikan setiap anak mendapatkan perhatian yang merata. Bahkan, SPPG Cibuntu juga menjalankan program tanggung jawab sosial melalui bantuan sarana pendidikan bagi anak yatim di lingkungan sekitar.

Melalui berbagai upaya tersebut, SPPG kini tidak hanya berfungsi sebagai penyedia makanan bergizi, tetapi juga menjadi penggerak utama dalam membangun kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat di tingkat lokal.