Jamkrindo

Klaim Trump soal Investasi Perusahaan Minyak AS di Venezuela Dipertanyakan

Oleh Desti Dwi Natasya pada 08 Jan 2026, 08:50 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim perusahaan-perusahaan minyak besar asal AS siap menanamkan investasi besar di industri minyak Venezuela. Pernyataan tersebut disampaikan Trump setelah insiden penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan khusus Amerika Serikat.

Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago pada 3 Januari 2026, Trump menyebut perusahaan minyak AS akan mengucurkan dana miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela yang dinilainya rusak parah. Ia kembali menegaskan hal itu keesokan harinya saat berbicara kepada wartawan di atas Air Force One, dengan menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut “siap bergerak”.

Namun, klaim tersebut belum sepenuhnya didukung oleh bukti konkret. Ketika diminta menjelaskan detail investasi, Trump tidak memberikan informasi spesifik. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menyampaikan pernyataan serupa, dengan mengatakan akan ada ketertarikan besar dari perusahaan Barat, tetapi tanpa menyebut nama atau rencana yang jelas.

Gedung Putih mengatakan telah melakukan pembicaraan dengan sejumlah perusahaan minyak, tetapi tidak mengungkapkan pihak-pihak yang terlibat. Sementara itu, American Petroleum Institute menyatakan pihaknya masih mencermati perkembangan situasi dan menegaskan bahwa keputusan investasi global sangat bergantung pada stabilitas politik, kepastian hukum, serta kondisi pasar.

Beberapa perusahaan minyak juga menunjukkan sikap hati-hati. Perwakilan ConocoPhillips, misalnya, menyebut masih memantau situasi dan menilai terlalu dini untuk membahas rencana investasi di Venezuela.

Para pakar energi menilai ada banyak faktor yang membuat perusahaan minyak enggan berinvestasi besar di negara tersebut. Meski Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, biaya awal untuk memperbaiki infrastruktur sangat tinggi, sementara harga minyak global saat ini relatif rendah. Selain itu, ketidakpastian politik dan hukum di Venezuela masih menjadi kekhawatiran utama.

Profesor teknik perminyakan dari University of Texas, Hugh Daigle, mengatakan sulit melihat alasan bisnis yang kuat bagi perusahaan AS untuk menggelontorkan dana besar dalam jangka panjang di Venezuela. Pandangan serupa disampaikan analis GasBuddy Patrick De Haan, yang menilai perusahaan minyak cenderung menunggu kejelasan situasi pemerintahan sebelum mengambil risiko besar.

Di masa lalu, perusahaan-perusahaan AS seperti ExxonMobil dan ConocoPhillips hengkang dari Venezuela setelah industri minyak dinasionalisasi pada 2007. Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi secara konsisten di negara tersebut.

Meski begitu, ada potensi keuntungan jika stabilitas politik dan ekonomi Venezuela membaik. Minyak Venezuela yang tergolong berat dapat menguntungkan kilang-kilang tertentu di AS yang memang dirancang untuk mengolah jenis minyak tersebut. Namun, para ahli menekankan bahwa keuntungan tersebut baru mungkin terjadi dalam jangka panjang dan bergantung pada reformasi hukum, stabilitas politik, serta pergerakan harga minyak global.

Rendahnya harga minyak dan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik juga menjadi faktor tambahan yang membuat prospek investasi semakin tidak pasti. Para analis menilai, tanpa perubahan signifikan dalam kondisi politik dan ekonomi Venezuela, klaim Trump tentang investasi besar perusahaan minyak AS masih jauh dari kenyataan.