Konflik Iran Tekan Pasar Energi dan Uji Kredibilitas Trump

Oleh Zahra Zahwa pada 03 Apr 2026, 21:18 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Pasar energi global mulai mengabaikan pernyataan Donald Trump setelah harga minyak terus naik akibat konflik Iran. Investor kini lebih fokus pada gangguan pasokan daripada komentar politik.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump berulang kali mengatakan perang hampir selesai. Namun, pasar energi melihat belum ada kepastian pembukaan kembali jalur utama distribusi minyak.

Selat Strait of Hormuz masih tertutup setelah respons Iran terhadap konflik militer. Jalur ini biasanya membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Karena itu, harga minyak melonjak lebih dari 11 persen sejak pernyataan terbaru dari Washington. Kenaikan tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap biaya energi global.

Analis menilai pasar tidak lagi mudah bereaksi pada optimisme politik. Mereka kini melihat dampak nyata di lapangan lebih menentukan arah harga.

Banyak fasilitas produksi di Timur Tengah juga menurunkan output untuk menghindari penumpukan distribusi. Proses pemulihan produksi diperkirakan memerlukan waktu beberapa bulan.

Selain itu, gangguan stok minyak global mulai terasa di banyak sektor. Harga pupuk, tiket penerbangan, dan produk plastik diperkirakan ikut terdorong naik.

Peneliti energi memperkirakan konflik telah menghilangkan ratusan juta barel dari sistem distribusi dunia. Kondisi itu memperbesar tekanan jangka menengah.

Jika jalur pelayaran belum dibuka, harga minyak bisa bertahan di atas US$90 per barel. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding awal tahun.

Sementara itu, pasar juga menilai risiko tambahan bila serangan meluas ke infrastruktur energi Iran. Langkah itu bisa memperdalam kekurangan pasokan.

Untuk perkembangan ekonomi global lainnya, baca juga kanal Business ThedailyID. Data harga energi internasional tersedia melalui .