Lonjakan Harga BBM Bikin Warga Pakistan Panik, SPBU Dipadati Kendaraan

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 03 Apr 2026, 21:18 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi dua kali dalam waktu singkat memicu kepanikan di Pakistan. Warga berbondong-bondong menyerbu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) demi mengamankan pasokan.

Antrean panjang kendaraan terlihat di berbagai kota besar, terutama di Karachi dan Islamabad. Situasi ini mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kenaikan harga lanjutan dan kelangkaan BBM.

Pemerintah Pakistan sebelumnya telah menaikkan harga BBM sekitar 20 persen pada awal Maret 2026. Kebijakan tersebut diambil sebagai respons terhadap tekanan fiskal dan kenaikan harga energi global.

Namun, kenaikan kembali terjadi pada awal April 2026 dengan lonjakan yang lebih tinggi. Hal ini membuat beban masyarakat semakin berat dalam waktu yang sangat berdekatan.

Kenaikan harga yang berulang dalam waktu kurang dari satu bulan membuat masyarakat kehilangan kepastian. Banyak warga memilih mengisi penuh tangki kendaraan untuk mengantisipasi kenaikan berikutnya.

Fenomena panic buying pun tidak terhindarkan. Kondisi ini memperparah antrean di SPBU dan meningkatkan tekanan pada distribusi bahan bakar di berbagai wilayah.

Di sisi lain, lonjakan harga BBM berdampak langsung pada biaya hidup. Harga transportasi dan logistik berpotensi naik, yang kemudian dapat memicu kenaikan harga barang kebutuhan pokok.

Pelaku usaha juga merasakan tekanan serupa. Kenaikan biaya operasional akibat BBM membuat margin usaha semakin tergerus, terutama bagi sektor transportasi dan distribusi.

Kondisi ini mencerminkan rentannya stabilitas energi di tengah dinamika global. Ketergantungan terhadap impor energi membuat negara seperti Pakistan lebih mudah terdampak gejolak harga internasional.

Pemerintah kini dihadapkan pada dilema antara menjaga stabilitas fiskal dan melindungi daya beli masyarakat. Kebijakan energi yang diambil ke depan akan sangat menentukan arah ekonomi domestik.

Situasi ini juga menjadi sinyal bahwa gejolak energi global masih jauh dari mereda. Negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan menghadapi dampaknya.