Konflik Timur Tengah Guncang Ekonomi Dunia, Brent Tembus US$ 82

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 03 Mar 2026, 13:32 WIB

rav

JAKARTA, Cobisnis.com – Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran langsung mengguncang pasar global. Harga minyak melonjak tajam, bursa saham dunia tertekan, dan dolar AS semakin menguat.

Lonjakan paling terlihat terjadi di pasar energi. Harga minyak mentah Brent naik 8,3% menjadi US$ 78,5 per barel, bahkan sempat menyentuh US$ 82,00 dalam perdagangan intraday.

Sementara itu, minyak mentah AS menguat 7,5% ke level US$ 72,02 per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Kondisi tersebut berpotensi memicu tekanan inflasi global. Harga energi yang tinggi biasanya menjadi beban tambahan bagi bisnis dan konsumen, sehingga berisiko menekan daya beli dan pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, harga emas sebagai aset aman ikut naik 2,1% menjadi US$ 5.389 per ons. Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih stabil saat ketidakpastian geopolitik meningkat.

Kelompok produsen minyak OPEC+ sebelumnya menyepakati peningkatan produksi moderat sebesar 206.000 barel per hari untuk April. Namun distribusi tetap bergantung pada jalur tanker di Timur Tengah yang kini rawan gangguan.

Pasar saham global merespons negatif. Indeks STOXX 600 Eropa turun 1,3%, sementara kontrak berjangka S&P 500 AS terkoreksi 1%, mengikuti pelemahan bursa Asia.

Sektor perbankan dan pariwisata menjadi yang paling tertekan. Saham pariwisata anjlok 3% karena investor khawatir konflik akan memengaruhi mobilitas dan konsumsi global.

Saham teknologi juga ikut terkoreksi karena investor melepas aset berisiko. Sebaliknya, saham sektor energi justru naik hingga 4% di Eropa, seiring ekspektasi keuntungan dari lonjakan harga minyak.

Di pasar valuta asing, dolar AS semakin kokoh. Mata uang tersebut menguat terhadap yen Jepang dan franc Swiss, masing-masing 0,5% dan 0,3%, mencerminkan arus modal menuju aset berbasis dolar.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya memberi sinyal bahwa konflik bisa berlangsung lebih dari satu bulan. Pernyataan itu memperkuat persepsi bahwa ketidakpastian pasar belum akan mereda dalam waktu dekat.

Secara historis, pasar cenderung mengabaikan konflik terbatas. Namun ketika potensi meluas ke seluruh kawasan meningkat, volatilitas menjadi tak terhindarkan.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa perang di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga langsung memengaruhi stabilitas ekonomi global. Arah pasar ke depan kini sangat ditentukan oleh durasi dan skala konflik.