JAKARTA, Cobisnis.com – Laporan terbaru Kongres Amerika Serikat mengungkap besarnya kerugian material militer AS sejak dimulainya konflik dengan Iran dalam operasi yang disebut Operation Epic Fury.
Dalam laporan tersebut, sebanyak 42 pesawat militer dilaporkan hilang atau rusak akibat pertempuran, insiden operasional, hingga kasus friendly fire. Kerugian itu mencakup jet tempur, pesawat pengintai, pesawat pengisian bahan bakar, hingga armada drone.
Beberapa kerugian terbesar meliputi satu unit F-35A Lightning II senilai sekitar US$110 juta, empat unit F-15E Strike Eagle, serta tujuh unit KC-135 Stratotanker dengan estimasi biaya penggantian mencapai US$1,8 miliar.
Selain itu, AS juga disebut kehilangan 24 unit MQ-9 Reaper dan satu unit MQ-4C Triton. Laporan turut mencatat kerusakan pada sejumlah pesawat lain seperti A-10 Thunderbolt II, E-3 Sentry AWACS, MC-130J Commando II, dan helikopter HH-60W Jolly Green II.
Pentagon dilaporkan merevisi estimasi biaya perbaikan dan penggantian dari US$25 miliar menjadi sekitar US$29 miliar atau setara Rp510 triliun.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut laporan tersebut sebagai bukti besarnya kerugian yang dialami AS dalam konflik tersebut.
Laporan ini juga memicu evaluasi di Kongres AS terkait kemampuan pertahanan udara militer Amerika di tengah meningkatnya intensitas konflik di kawasan Timur Tengah.