JAKARTA, Cobisnis.com – Tahukah Anda bahwa ada cara khusus mengenakan turtleneck hitam yang seolah hanya diketahui satu perempuan pirang berkarisma dalam sejarah? Tentu saja itu tidak sepenuhnya benar siapa pun bisa tampil menawan dengan turtleneck hitam. Namun, kultus “quiet luxury” yang mengelilingi mendiang Carolyn Bessette Kennedy (CBK) membuat setiap detail busananya, mulai dari potongan celana korduroi hingga panjang sweater, diperlakukan seperti hukum suci.
Semasa hidupnya, publicist sekaligus istri John F. Kennedy Jr. ini memang dikenal berpengaruh dalam dunia mode. Namun setelah kematiannya akibat kecelakaan pesawat pada 1999, statusnya menjelma menjadi ikon fesyen yang nyaris mitologis. Gayanya sering dianggap rumit dan penuh makna tersembunyi, meski teman-teman serta desainer menyebut pesonanya justru terletak pada kesederhanaan dan intuisi.
Tak heran, para penggemar CBK kecewa ketika foto-foto awal dari miniseri drama “Love Story” produksi Ryan Murphy beredar tahun lalu. Serial ini mengangkat kisah tragis dua anggota keluarga Kennedy. Rambut pirangnya dianggap tidak tepat, tas Birkin terlihat kurang terisi, dan potongan mantel dinilai kurang pas. Reaksi negatif pun bermunculan menjelang penayangan perdananya sebelum Hari Valentine. Setelah tiga episode pertama dirilis, ulasan terhadap serial ini memang cenderung kurang memuaskan. Namun untuk urusan kostum, hasilnya ternyata tidak seburuk yang dikhawatirkan bahkan bisa dibilang sangat baik.
Salah satu momen menonjol adalah gaun slip dress yang dikenakan CBK diperankan dengan apik oleh Sarah Pidgeon saat kencan pertamanya dengan Kennedy Jr., yang diperankan oleh Paul Anthony Kelly. Slip dress memang menjadi ciri khas Carolyn: perpaduan sempurna antara kasual dan sensual, sederhana namun berkesan. Pilihan busana itu menunjukkan kontras dengan mertuanya, Jacqueline Kennedy Onassis, yang dikenal dengan gaya rapi dan selera tajam terhadap Gucci dan Halston.
Setelah kritik awal, tim produksi menunjuk desainer kostum baru, Rudy Mance, yang sebelumnya terlibat dalam proyek Murphy lainnya seperti Feud: Capote vs. The Swans. Mance berkonsultasi dengan penulis Sunita Kumar Nair, yang menulis biografi fesyen Bessette Kennedy. Mereka berupaya keras mencari item dari merek dan koleksi yang benar-benar dikenakan CBK, termasuk mantel dan sepatu Prada serta potongan denim Levi’s favoritnya.
Hasilnya terlihat dalam detail-detail kecil namun bermakna. Di episode pertama, ia tampil dengan turtleneck hitam dan celana capri yang memperlihatkan sepatu ujung kotak dari Prada model yang pada awal 1990-an berubah dari dianggap aneh menjadi simbol keren terselubung. Penampilan ini menegaskan bahwa Bessette memahami pergeseran tren mode tanpa harus tampil berlebihan.
Di episode lain, ia terlihat berjalan santai dengan model pakaian dalam Calvin Klein, Michael Bergin, mengenakan sweater biru tua dan celana olahraga, dengan kemeja putih kusut yang menyembul di baliknya. Detail seperti rambut tak tersisir atau pakaian yang tampak sedikit kusut justru memperlihatkan sisi manusiawi yang memperkuat daya tariknya.
Berbeda dengan pendekatan serial seperti The Crown yang menekankan replikasi presisi, “Love Story” memilih menangkap esensi dan naluri gaya CBK, bukan sekadar menyalin tampilannya secara identik.
Karena Bessette Kennedy jarang memberi wawancara, pakaian menjadi medium penting untuk memahami siapa dirinya dan bagaimana tekanan media perlahan mengubah kebebasan alaminya menjadi pertahanan yang kaku. Busana minimalisnya seolah menjadi perisai menghadapi sorotan paparazi dan kolom gosip.
Pada akhirnya, serial ini mungkin tidak sempurna. Namun dalam hal kostum, “Love Story” berhasil menangkap jiwa seorang ikon bukan hanya penampilannya.