KUMPUL Summit Soroti Kesenjangan Pembiayaan UMKM USD 300 Miliar

Oleh Rizki Meirino pada 22 Oct 2026, 18:48 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – KUMPUL Summit 2026 menyoroti kesenjangan pembiayaan bisnis di Asia Tenggara yang mencapai lebih dari USD 300 miliar atau sekitar Rp5.380 triliun per tahun. Kesenjangan tersebut menjadi tantangan bagi jutaan usaha kecil dan berkembang atau small and growing businesses (SGBs) yang belum memiliki akses memadai terhadap pembiayaan formal.

Asia Tenggara diperkirakan memiliki sekitar 71 juta SGBs yang mewakili 97% dari total pelaku usaha di kawasan. Namun, kurang dari 30% di antaranya memiliki akses terhadap pembiayaan formal, sehingga banyak bisnis potensial terjebak dalam kondisi yang dikenal sebagai missing middle.

Untuk menjawab persoalan tersebut, KUMPUL kembali menggelar KUMPUL Connect for Change Summit (KUMPUL C4C Summit) 2026 di Jakarta dengan tema Reimagine Impact. Acara ini menghimpun lebih dari 1.000 peserta dari 16 negara untuk memperkuat koordinasi antara wirausahawan, pemerintah, investor, dan masyarakat sipil dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Founder dan Chairperson KUMPUL serta KUMPUL Impact, Faye Wongso, mengatakan pengembangan kapasitas bisnis perlu didukung akses terhadap rantai pasok, pasar, pembiayaan, teknologi, dan jaringan. Berdasarkan pengalaman KUMPUL selama 11 tahun, ia menilai berbagai dukungan tersebut perlu terhubung agar dapat menjawab kebutuhan nyata para pelaku usaha.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia periode 2014–2024 Retno Marsudi menekankan pentingnya investasi jangka panjang dalam pengembangan kapasitas manusia di tengah perubahan teknologi dan dinamika global. Dalam sesi bertajuk Can the World Still Trust Us?, ia menyatakan Indonesia perlu memperkuat kapasitasnya sendiri serta memastikan inovasi mendukung kemajuan nasional.

Persoalan pembiayaan juga menjadi perhatian dalam diskusi yang menghadirkan Miguel Soriano dari International Finance Corporation (IFC), bagian dari World Bank Group. Ia menilai tantangan utama bukan hanya keterbatasan jumlah modal, tetapi juga rantai pembiayaan yang belum sesuai dengan tahapan pertumbuhan bisnis.

Untuk menerjemahkan diskusi menjadi solusi konkret, KUMPUL C4C Summit menghadirkan Executive Lab Forum (ELF) yang didukung BNI Ventures dan AI Ignition. Salah satu forum membahas komersialisasi serta adopsi kecerdasan buatan (AI) agar menghasilkan solusi bernilai tambah yang berpotensi menarik investasi, sedangkan jalur yang didukung Tribhuwana Advisory berfokus pada perancangan skema catalytic capital bagi SGBs di Indonesia.

Summit tersebut juga memfasilitasi business matching untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra investasi dan komersial. BEKUP Business Matching menghubungkan startup ekonomi kreatif dengan calon mitra, sementara SOLUSI Business Matching mempertemukan kewirausahaan sosial di bidang pengelolaan bentang darat dan laut terpadu dengan pemangku kepentingan strategis.

Rangkaian acara ditutup dengan Innovation Tour bersama Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia dan Living Lab Ventures. Delegasi dari Indonesia, Filipina, Singapura, Jepang, dan Amerika Serikat yang bergerak di bidang teknologi iklim, AI, konsultasi bisnis, serta dampak sosial menghadiri World Conference on Creative Economy dan mengunjungi Biomedical Campus di BSD City untuk mengenal ekosistem inovasi Indonesia.

KUMPUL C4C Summit 2026 didukung sejumlah mitra, termasuk PETRONAS, BNI, UD Impact, Living Lab Ventures, dan BNI Ventures. Dukungan juga datang dari Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan Hidup, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir melalui International Climate Initiative yang diimplementasikan bersama konsorsium Yayasan KEHATI, serta sejumlah mitra strategis lainnya.

Melalui forum diskusi, pengembangan solusi pembiayaan, dan penjajakan kemitraan, KUMPUL Summit 2026 berupaya memperkuat hubungan antara pelaku usaha, investor, dan pemangku kepentingan lintas negara. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi hambatan pembiayaan sekaligus membuka peluang pertumbuhan yang lebih inklusif bagi bisnis kecil dan berkembang di Asia Tenggara.