Laba Pupuk Indonesia Tembus Rp8,51 Triliun, Harga Pupuk Justru Turun

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 08 Sep 2026, 09:36 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatat lonjakan kinerja keuangan pada semester I 2026. Laba bersih perusahaan mencapai Rp8,51 triliun, naik 252,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sekitar Rp2,41 triliun.

Kinerja tersebut turut mendapat sorotan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD RI pada Jumat (14/8/2026). "Dan pada saat bersamaan keuntungan PT Pupuk Indonesia, perusahaan negara, BUMN, keuntungannya naik 252,8%. Harga pupuk turun, volume tambah, tapi keuntungan bagi PT Pupuk Indonesia naik 252,8%," ujar Prabowo.

Kenaikan laba terjadi ketika pemerintah juga menurunkan harga pupuk hingga 20%. Prabowo menyebut kebijakan tersebut menjadi pertama kalinya harga pupuk dapat diturunkan kepada masyarakat.

Selain laba, pendapatan Pupuk Indonesia mencapai Rp59,67 triliun pada Januari hingga Juni 2026. Angka tersebut meningkat 51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara EBITDA mencapai Rp14,28 triliun atau tumbuh 140%.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan peningkatan kinerja tersebut merupakan hasil transformasi bisnis dan tata kelola. Perusahaan mengandalkan operational excellence dan cost leadership untuk meningkatkan efisiensi.

"Berkat dukungan pemerintah melalui Danantara transformasi bisnis secara menyeluruh sudah mulai membuahkan hasil berupa capaian kinerja keuangan yang membanggakan," ujar Rahmad.

Efisiensi menjadi penting karena industri pupuk sangat dipengaruhi biaya bahan baku dan energi. Pupuk Indonesia memperluas sumber pasokan, memperkuat skema kontrak bahan baku, serta melakukan diversifikasi ke segmen non subsidi dan produk non pupuk.

Transformasi juga menyasar fasilitas produksi. Pupuk Indonesia menyiapkan investasi untuk revitalisasi tujuh pabrik dalam lima tahun ke depan, dengan kapasitas produksi nasional saat ini sekitar 14,8 juta ton per tahun.

Perusahaan juga menyiapkan sumber pertumbuhan baru melalui pengembangan metanol dan turunannya, clean ammonia, serta industrial support. Diversifikasi tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap siklus bisnis pupuk sekaligus menangkap peluang industri yang lebih rendah emisi.

Di sisi hilir, Pupuk Indonesia mencatat penyaluran pupuk bersubsidi sebanyak 6,33 juta ton hingga 1 September 2026. Jumlah tersebut setara 64,3% dari alokasi pemerintah sebesar 9,8 juta ton.

Rahmad menegaskan transformasi perusahaan pada akhirnya harus memberikan manfaat bagi petani dan ketahanan pangan. "Sejalan dengan agenda transformasi BUMN yang didorong Danantara, semua perubahan struktural ini bermuara pada satu hal, pupuk yang terjangkau dan lebih cepat sampai ke petani, dengan cost yang lebih sehat bagi negara serta menjaga ketahanan pangan," ungkapnya.