JAKARTA,Cobisnis.com – Di tengah khidmatnya malam-malam Ramadan, umat Muslim dianjurkan tidak hanya berfokus pada jumlah rakaat shalat, tetapi juga pada kesempurnaan zikir setelahnya. Salah satu tuntunan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW adalah melafalkan zikir khusus setelah menutup rangkaian ibadah malam dengan shalat Witir.
Berdasarkan hadis sahih riwayat An-Nasa’i dan Abu Dawud, Rasulullah SAW memiliki kebiasaan khusus saat mengakhiri shalat Witir, yaitu memuji Allah SWT dengan asma-Nya yang paling suci.
Tata Cara Sesuai Sunah
Zikir ini bukan sekadar bacaan biasa, melainkan memiliki tata cara khusus yang mencerminkan pengagungan kepada Sang Pencipta:
- Lafal Utama: Membaca “Subhaanal Malikil Quddus” (Maha Suci Allah Penguasa Yang Maha Suci).
- Repetisi: Dibaca sebanyak tiga kali.
- Penekanan Suara: Pada bacaan yang ketiga, disunahkan untuk memanjangkan suara dan sedikit mengeraskannya sebagai bentuk penguatan zikir.
- Tambahan Sempurna: Setelah bacaan ketiga, dapat ditambahkan kalimat “Rabbil malaaikati war ruuh” (Tuhan para malaikat dan Jibril).
Makna Mendalam di Balik Asmaul Husna
Pemilihan nama Al-Malik (Maha Raja) dan Al-Quddus (Maha Suci) dalam zikir ini membawa pesan mendalam bagi setiap hamba. Setelah bersujud dalam rakaat yang ganjil (Witir), seorang Muslim mengakui bahwa segala otoritas berada di tangan Allah yang Maha Raja, dan segala kekurangan dalam ibadah manusia ditutupi oleh kesucian-Nya yang sempurna.
"Zikir ini adalah bentuk pengakuan bahwa meski ibadah kita mungkin jauh dari sempurna, kita bersandar pada kesucian dan kebesaran-Nya sebagai penutup malam," ungkap para ulama mengenai keutamaan amalan ini.
Ajakan bagi Jemaah
Pihak dewan kemakmuran masjid dan para imam diharapkan dapat mensosialisasikan sunah ini kepada jemaah, sehingga suasana tarawih dan witir tidak hanya menjadi rutinitas fisik, tetapi juga menjadi sarana memperdalam koneksi spiritual melalui zikir yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW.