Merajut Masa Depan dari Manisnya Madu Hutan Lantung Bersama Amman Mineral

Oleh Iwan Supriyatna pada 24 Jul 2026, 17:36 WIB

Madu hitam asli dengan merek QuinBi hasil Program Balai Berdaya binaan PT Amman Mineral Internasional (AMMN).

JAKARTA, Cobisnis.com - Di sebuah rumah sederhana di Dusun Batu Para, Desa Lantung, Kecamatan Lantung, Kabupaten Sumbawa, aroma madu hutan bukan hanya menjadi pengingat manisnya alam, tetapi juga menjadi simbol perubahan hidup bagi Indriani Imlassyafitri (30).

Ibu muda asal Nusa Tenggara Barat ini tak pernah membayangkan bahwa usaha kecil yang bermula dari hanya mengisi Waktu luang membantu keluarga kini mampu membuka pasar hingga ke luar daerah.

Kisah itu dimulai pada awal Tahun 2020. Saat itu, kakek dari suaminya rutin masuk ke hutan untuk mencari madu liar. Bagi masyarakat Lantung, hutan bukan sekadar bentang alam, tetapi juga sumber kehidupan.

Dari kawasan hutan di sekitar wilayah lingkar tambang, lebah-lebah liar masih menghasilkan madu hutan alami yang menjadi salah satu mata pencaharian warga.

Kehadiran madu dengan kualitas yang tetap terjaga menunjukkan bahwa ekosistem hutan masih mampu menyediakan habitat dan sumber pakan yang dibutuhkan lebah untuk berkembang secara alami.

Madu hutan yang dipanen secara tradisional menjadi gambaran bahwa aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan berdampingan dengan keberadaan kawasan tambang.

Hasil panen madu yang didapat dari hutan kemudian dibawa pulang, sementara Indriani mengambil peran yang sederhana, yakni membantu menjualnya kepada warga sekitar.

"Tahun 2020 awalnya iseng-iseng, kakek suami pergi cari madu ke hutan di areal Kecamatan Lantung. Saya coba-coba jual, ternyata ada yang beli," kata Indriani saat diwawancarai, Jumat (24/7/2026).

Indri bercerita, kala itu, madu yang dihasilkan hanya dikemas menggunakan botol bekas air mineral berukuran 600 mililiter. Dengan tampilan yang sangat sederhana, satu botol dijual seharga Rp60 ribu hingga Rp80 ribu.

Penjualannya pun masih terbatas di lingkungan kampung. Meski demikian, Indriani tetap menjalankannya dengan penuh semangat karena percaya kualitas madu hutan alami memiliki nilai yang tak tergantikan.

Titik balik datang pada 2024 ketika ia bergabung dalam Program Balai Berdaya binaan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Melalui program tersebut, Indriani tidak hanya memperoleh pelatihan mengenai pemasaran, tetapi juga belajar membangun identitas produk, memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi, hingga menghadirkan kemasan yang lebih menarik dan profesional.

Perubahan itu membawa dampak besar. Madu yang sebelumnya dijual dalam botol air mineral kini tampil dengan kemasan yang lebih eksklusif dengan merek QuinBi bertuliskan 100 persen madu hutan asli. Nilai jual produk pun meningkat.

Kemasan 500 mililiter kini dipasarkan seharga Rp150 ribu, sedangkan kemasan satu liter dijual Rp290 ribu. Menurut Indriani, inovasi kemasan membuat konsumen semakin percaya terhadap kualitas produknya.

"Saya diajarkan cara memasarkan untuk menarik konsumen. Awalnya jualan pakai botol air mineral, setelah dibina saya kemudian berinovasi kemasan lebih menarik," ucap Indriani.

Seiring berjalannya waktu, usahanya pun berkembang pesat. Jika sebelumnya pembeli hanya berasal dari sekitar desa, kini pesanan mulai berdatangan dari luar kota.

Bahkan, dalam satu bulan, ia pernah mencatat penjualan hingga 60 botol madu ukuran 500 mililiter. Secara keseluruhan, setelah mengikuti program pembinaan, penjualannya meningkat sekitar 80 persen.

Bagi Indriani, keberhasilan itu bukan sekadar soal meningkatnya omzet. Lebih dari itu, ia memperoleh kepercayaan diri untuk mengembangkan usaha yang selama ini dibangun bersama keluarga.

Pengetahuan mengenai pemasaran, pengemasan, dan strategi menarik konsumen menjadi bekal berharga yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.

Ia berharap program pemberdayaan seperti Balai Berdaya dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak pelaku UMKM di daerah yang merasakan manfaat serupa.

Indriani berharap, dukungan tidak hanya berhenti pada pelatihan, tetapi juga perlu diperkuat melalui akses permodalan agar pelaku usaha mampu menjaga ketersediaan stok saat permintaan meningkat.

"Kita butuh bantuan akses permodalan, ketika panen madu, kita bisa belanja untuk stok," kata Indriani.

Kesempatan mengikuti pameran dan berbagai kegiatan UMKM juga dirasa Indriani penting untuk memperluas jaringan pasar sekaligus menambah semangat para pelaku usaha lokal.

Di balik setiap tetes madu hutan Lantung yang dipasarkan, tersimpan kisah tentang ketekunan, harapan, dan mimpi seorang perempuan desa yang perlahan berubah menjadi kenyataan.

Di samping itu, selama pengelolaan lingkungan dilakukan secara bertanggung jawab dan area hutan yang menjadi habitat lebah tetap terjaga, potensi hasil hutan seperti madu dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kisah Indriani menjadi salah satu contoh bagaimana kekayaan alam yang tumbuh dari hutan dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus memperlihatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan kelestarian lingkungan.