Mike Tyson Raup Rp4,5 Triliun tapi Akhirnya Bangkrut

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 21 Aug 2026, 08:56 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Mike Tyson pernah menghasilkan setidaknya US$300 juta atau sekitar Rp4,5 triliun sepanjang kariernya sebagai petinju. Namun, ia pernah menyatakan bangkrut dan memiliki utang sekitar US$30 juta atau Rp450 miliar.

Kisah Tyson kemudian dijadikan contoh dalam sebuah video YouTube untuk menjelaskan pentingnya kemampuan mengelola uang. Menurut pembicara dalam video tersebut, penghasilan besar tidak akan berarti jika seluruh uang habis tanpa dikelola dengan baik.

“Percuma dong kalau perbulan kamu punya penghasilan 20 juta tapi di akhir bulan kamu nggak punya apa-apa yang bisa menunjukkan bahwa kamu itu berpenghasilan 20 juta,” ujar pembicara dalam video tersebut, dikutip dari kanal Youtube Kuliah Kehidupan, Jumat (21/8/2026).

Ia menjelaskan, masalah keuangan tidak hanya berkaitan dengan jumlah pemasukan, tetapi juga pola konsumsi. Seseorang dengan penghasilan besar tetap bisa kesulitan jika pengeluarannya terus mengikuti atau bahkan melebihi pendapatan.

Langkah pertama yang disarankan adalah mencatat seluruh pengeluaran, mulai dari tempat tinggal, transportasi, makanan, kebutuhan sehari-hari hingga hiburan. Setelah itu, pengeluaran perlu disusun melalui budgeting agar kebutuhan yang tidak penting bisa dikurangi.

Pembicara tersebut juga mengingatkan agar gaya hidup tidak berada jauh di atas kemampuan finansial. “Jangan malah kalian hidup dengan Lifestyle yang jauh di atas gaji kalian,” ujarnya.

Selain mengontrol pengeluaran, dana darurat juga perlu disiapkan sebelum seseorang mulai berinvestasi atau membuka bisnis. Dana tersebut dapat digunakan ketika menghadapi kondisi seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan mendesak.

Menurutnya, meningkatkan pendapatan juga penting setelah kondisi keuangan mulai tertata. Dua jalur yang disebut adalah bisnis dan investasi, dengan tetap memahami risiko dari masing-masing pilihan.

Inti dari pembahasan tersebut adalah kemampuan mencari uang harus diikuti kemampuan mempertahankan dan mengelolanya. Penghasilan besar tanpa pengelolaan yang baik tetap berisiko habis dan tidak menghasilkan keamanan finansial dalam jangka panjang.