Nike hingga Ford Tak Lagi Berjaya di China Kenapa?

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 25 Aug 2026, 17:29 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Sejumlah merek besar asal Amerika Serikat mulai kehilangan pengaruh di pasar China. Nike, Starbucks hingga General Motors menghadapi tekanan dari merek lokal dan perubahan preferensi konsumen.

China sebelumnya menjadi salah satu pasar paling menarik bagi perusahaan AS karena memiliki populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa. Namun, persaingan domestik dan ketegangan geopolitik membuat sejumlah perusahaan kesulitan mempertahankan pangsa pasar.

Kepala Praktik Ritel Global Bain & Company Aaron Cheris mengatakan sejumlah perusahaan AS belum cukup menyesuaikan produk dan strateginya dengan kebutuhan konsumen China. Kondisi tersebut membuat merek lokal semakin mudah mengambil pasar.

Konsumen China juga semakin memperhatikan harga produk AS yang dinilai lebih mahal. Sementara itu, merek lokal memiliki siklus inovasi yang lebih cepat dan jaringan distribusi yang lebih kuat di dalam negeri.

Nike menjadi salah satu perusahaan yang paling terdampak. Bisnis Nike di China menyusut 30 persen sejak 2021, sementara pendapatan tahunan perusahaan di negara tersebut mencapai level terendah dalam delapan tahun pada musim semi 2026.

Kondisi tersebut terjadi ketika konsumen China semakin beralih ke merek olahraga lokal. Di saat yang sama, industri pakaian olahraga China tumbuh lebih dari dua kali lipat dalam satu dekade terakhir.

Tekanan serupa terjadi di sektor makanan dan minuman. Starbucks harus menghadapi persaingan ketat dari Luckin Coffee yang kini memiliki jumlah gerai lebih dari tiga kali lipat dibandingkan Starbucks di China, dengan harga yang lebih murah.

Sektor otomotif juga mengalami perubahan besar. Pangsa pasar tiga produsen otomotif Detroit, General Motors, Ford Motor dan Chrysler, turun dari 21,4 persen pada 2019 menjadi sekitar 15,7 persen pada 2025 berdasarkan data S&P Global Mobility.

General Motors bahkan mengalami perubahan signifikan dalam bisnisnya di China. Pendapatan yang sebelumnya mencapai sekitar US$2 miliar per tahun pada 2018 berubah menjadi kerugian selama dua tahun berturut turut pada 2024 dan 2025.

Ford juga mencatat tekanan serupa dengan penjualan di China yang turun 32,4 persen sepanjang 2018 hingga 2022. Perusahaan kini mengalihkan lebih banyak aktivitas produksi dan penjualan ke AS, termasuk rencana memindahkan produksi model Lincoln dari China ke AS mulai 2030.

Meski demikian, tidak semua merek AS kehilangan daya saing. Lululemon, Ralph Lauren dan Kentucky Fried Chicken masih mencatat kinerja positif karena mampu menyesuaikan produk dan strategi dengan karakter konsumen China.

Cheris menilai kemampuan membangun kapasitas lokal menjadi faktor penting bagi perusahaan AS yang ingin bertahan di China. Menurutnya, merek tidak cukup hanya membawa strategi global lalu menerapkannya tanpa penyesuaian terhadap pasar setempat.