Jamkrindo

Olimpiade Terakhir Lindsey Vonn Mungkin yang Paling Mustahil

Oleh Zahra Zahwa pada 04 Feb 2026, 12:57 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Lindsey Vonn tahu betul apa yang dipertaruhkannya. Di usia 41 tahun, dengan lutut kiri mengalami robekan total ACL dan lutut kanan diperkuat titanium, legenda ski Amerika Serikat itu tetap bersikeras tampil di nomor downhill Olimpiade Musim Dingin. Bagi Vonn, ini bukan sekadar lomba, melainkan panggilan hidup.

Dalam konferensi pers di Cortina d’Ampezzo, Italia, Vonn dengan tenang mengungkapkan cedera parah yang dialaminya beberapa hari sebelumnya. ACL putus total, disertai memar tulang dan kerusakan meniskus. Namun dengan ketenangan yang sama, ia menegaskan niatnya untuk tetap turun di lintasan Olimpiade Minggu nanti.

Secara medis, keputusan itu nyaris tak masuk akal. Meluncur hingga 135 kilometer per jam tanpa ACL sangat berisiko. Tapi bagi Vonn, risiko adalah bagian dari identitas. Sepanjang kariernya, ia berkali-kali menantang batas tubuh: tiga kali robek ACL, patah tulang, cedera ligamen, hingga operasi berulang. Semua itu tak pernah memadamkan hasratnya untuk terus melaju.

“Saya tidak akan membiarkan ini lepas begitu saja,” ujar Vonn. “Saya akan melakukannya. Kepala saya tegak. Apa pun hasilnya, saya tidak akan pernah berkata bahwa saya tidak mencoba.”

Kehadiran Vonn di Olimpiade kali ini sendiri sudah terasa mustahil. Ia sempat pensiun pada 2019 setelah cedera beruntun membuatnya tak sanggup lagi berjalan normal, apalagi bermain ski. Operasi lutut dengan teknologi 3D dan titanium awalnya bertujuan agar ia bisa hidup tanpa rasa sakit, bukan untuk kembali balapan.

Namun tubuhnya merespons di luar dugaan. Rasa sakit hilang, performa kembali. Musim ini, Vonn bahkan mencetak sejarah dengan memenangi lomba downhill Piala Dunia, menjadikannya pemenang tertua sepanjang sejarah, sekaligus memimpin klasemen disiplin tersebut.

Bagi Vonn, kembalinya ia ke lintasan bukan soal pembuktian. Prestasinya sudah lengkap: 84 kemenangan Piala Dunia, emas Olimpiade 2010, dan status ikon ski dunia. Ini soal kesempatan langka untuk kembali merasakan kebebasan yang hanya ia temukan saat meluncur menuruni gunung.

“Saya suka risiko. Saya suka kecepatan. Saya suka mendorong diri sampai batas,” katanya. “Itulah mengapa saya bisa menang berkali-kali di downhill.”

Di helmnya kini tertera inisial D.S.F.B.L.L.E., singkatan nama orang-orang dan makhluk terkasih yang telah ia kehilangan, termasuk sang ibu, Linda Krohn, yang berjuang melawan ALS. Dari ibunyalah Vonn belajar makna keteguhan: mengangkat tangan dan berkata, “Hari ini adalah hari yang luar biasa.”

Mungkin lututnya tak akan bertahan. Mungkin ia harus berhenti sebelum lomba dimulai. Namun selama masih bisa berdiri di gerbang start, Lindsey Vonn akan meluncur. Bukan karena ia harus, melainkan karena ia bisa.