JAKARTA, Cobisnis.com - Keinginan orang tua untuk selalu menjaga anak agar terhindar dari masalah merupakan hal yang wajar. Namun, perlindungan yang diberikan secara berlebihan justru bisa berdampak pada perkembangan anak, mulai dari menghambat kemandirian hingga membuat mereka lebih mudah merasa cemas.
Psikolog klinis Meredith Elkins, pakar kecemasan pada anak dan orang tua sekaligus pengajar di Harvard Medical School, menjelaskan bahwa pola asuh overparenting dapat membuat anak merasa tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan tanpa bantuan orang dewasa.
Elkins mengidentifikasi lima perilaku orang tua yang menunjukkan pola asuh terlalu protektif. Kebiasaan tersebut juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi kemampuan anak dalam membangun ketangguhan emosional.
1. Selalu Mengambil Alih Masalah Anak
Ketika anak menghadapi persoalan, orang tua sering kali ingin segera turun tangan memberikan bantuan. Mulai dari konflik dengan teman, kesulitan mengerjakan tugas sekolah, hingga masalah dalam pergaulan.
Namun, jika orang tua selalu memberikan solusi tanpa membiarkan anak mencoba terlebih dahulu, kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah bisa kurang berkembang.
Anak sebenarnya membutuhkan ruang untuk berpikir, mencoba berbagai cara, dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan. Orang tua dapat membantu dengan mengajukan pertanyaan yang mendorong anak mencari solusi sendiri, seperti, "Menurut kamu, apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini?"
2. Tidak Memberi Ruang bagi Anak untuk Merasakan Emosi Negatif
Sebagian orang tua merasa tidak tega ketika melihat anak mengalami kesedihan, kekecewaan, ketakutan, atau frustrasi. Akibatnya, mereka berusaha secepat mungkin menghilangkan perasaan tersebut.
Padahal, emosi negatif merupakan bagian dari pengalaman hidup yang perlu dipahami sejak dini. Anak perlu belajar mengenali perasaan, menerima keadaan, dan mengelola emosinya ketika menghadapi situasi sulit.
Daripada langsung mengalihkan perhatian atau menyelesaikan persoalan anak, orang tua bisa memberikan dukungan emosional sekaligus membangun keyakinan bahwa anak mampu melewati situasi tersebut.
Sebagai contoh, orang tua bisa mengatakan, "Mama tahu kamu kecewa. Tidak apa-apa merasa sedih, dan Mama yakin kamu bisa menghadapi ini.
3. Meragukan Kemampuan Anak Menghadapi Kesulitan
Kebiasaan terlalu mengkhawatirkan kemampuan anak juga menjadi salah satu tanda pola asuh yang terlalu protektif.
Orang tua mungkin merasa perlu terus mengawasi setiap aktivitas, membatasi berbagai kegiatan, atau mengambil alih tanggung jawab yang sebenarnya sudah dapat dilakukan anak sesuai usianya.
Jika terus terjadi, anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak cukup mampu menghadapi tantangan secara mandiri.
Untuk mencegah hal tersebut, orang tua perlu mulai memberikan kepercayaan sesuai tahap perkembangan anak. Misalnya, membiarkan mereka mengerjakan tugas sederhana, menentukan pilihan sendiri, dan belajar bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat.
4. Lebih Mementingkan Prestasi daripada Proses Belajar
Mendorong anak mendapatkan nilai bagus atau meraih prestasi merupakan bagian dari perhatian orang tua terhadap masa depan mereka. Namun, terlalu berfokus pada hasil dapat membuat anak merasa harus selalu berhasil agar mendapat pengakuan.
Tekanan tersebut berpotensi membuat anak takut melakukan kesalahan dan enggan mencoba hal baru karena khawatir mengecewakan orang tua.
Padahal, proses belajar tidak selalu berjalan mulus. Kesalahan dan kegagalan justru bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk mengevaluasi diri, menemukan cara baru, dan mengembangkan kemampuannya.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya memberikan apresiasi ketika anak berhasil. Usaha, ketekunan, dan keberanian mereka dalam mencoba sesuatu juga perlu dihargai.
5. Membiarkan Rasa Cemas Mengendalikan Pola Asuh
Kecemasan orang tua terhadap keselamatan dan masa depan anak terkadang membuat mereka mengambil keputusan secara berlebihan.
Contohnya, langsung menghubungi orang tua teman anak ketika terjadi perselisihan kecil atau terus mengawasi pengerjaan tugas karena takut anak mendapatkan nilai buruk.
Tindakan tersebut mungkin dilakukan dengan niat baik, tetapi jika terlalu sering, anak bisa merasa bahwa orang tuanya tidak memercayai kemampuan mereka.
Elkins menyarankan agar orang tua mempertimbangkan kembali alasan sebelum mengambil tindakan. Mereka perlu membedakan apakah keputusan tersebut memang diperlukan untuk melindungi anak atau hanya bertujuan meredakan kekhawatiran pribadi.
Membangun Kemandirian Bukan Berarti Membiarkan Anak Sendirian
Memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mandiri bukan berarti orang tua harus berhenti memberikan bantuan. Anak tetap membutuhkan lingkungan yang aman, dukungan emosional, dan pendampingan ketika menghadapi persoalan.
Hal terpenting adalah menjaga keseimbangan antara perlindungan dan kebebasan untuk berkembang. Orang tua perlu mengetahui kapan harus membantu dan kapan sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba sendiri.
Dengan pola asuh yang tepat, anak dapat belajar mengambil keputusan, menghadapi kegagalan, serta menyelesaikan persoalan tanpa selalu bergantung pada orang lain.
Pada akhirnya, membentuk anak yang tangguh bukan tentang menjauhkan mereka dari semua kesulitan. Justru, orang tua perlu membekali anak dengan kepercayaan diri dan kemampuan agar mereka siap menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.