JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan operasi militer di Iran bisa berlangsung sekitar empat minggu. Pernyataan ini memicu perdebatan, karena pakar Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Dina Sulaeman, menilai target itu sulit dicapai.
Dina menekankan, Amerika Serikat kini menghadapi tekanan dari rudal-rudal Iran yang terus diluncurkan ke pangkalan mereka di Timur Tengah. Selain itu, serangan terhadap Israel menambah front perang yang harus dihadapi Washington.
“Empat minggu itu luar biasa, enggak mungkin rasanya jika melihat analisis militer di dalam negeri AS sendiri,” ujar Dina dalam program On Focus di YouTube Tribunnews, Rabu (4/3/2026).
Trump mengatakan kepada surat kabar Inggris Daily Mail bahwa proses militer biasanya memakan waktu empat minggu. “Sekuad apa pun Iran, ini negara besar, akan membutuhkan waktu empat minggu atau kurang,” katanya.
Hingga hari kelima serangan militer AS-Israel ke Iran, data sementara mencatat lebih dari 1.045 orang tewas dan sekitar 6 ribu lainnya terluka. Warga sipil menanggung beban terberat dari konflik ini.
Serangan juga menghantam kota-kota besar seperti Teheran, Qom, dan Isfahan, merusak bangunan perumahan serta fasilitas militer paramiliter Basij yang terkait IRGC. Namun, fasilitas nuklir dilaporkan tidak mengalami kerusakan dan aman dari risiko radiologis.
Pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, ditunda akibat ledakan dan risiko serangan lanjutan terhadap kerumunan massa. Pemimpin Iran ini tewas pada 28 Februari bersamaan dengan gelombang pertama serangan AS-Israel.
Selain Khamenei, pejabat senior lain seperti Menteri Pertahanan Iran Amir Nasirzadeh juga menjadi korban dalam serangan ini, memperburuk situasi kepemimpinan negara.
Pakar menilai, dengan front perang yang luas dan serangan berlapis dari berbagai arah, target empat minggu Trump sangat sulit tercapai. Kondisi ini memperlihatkan kompleksitas konflik yang melibatkan banyak pihak di Timur Tengah.
Sementara itu, masyarakat internasional terus memantau eskalasi dan dampaknya terhadap keamanan regional, jalur perdagangan energi, dan stabilitas politik di kawasan.