Parpol Andalkan Influencer, Efektifkah Menambah Suara Pemilih?

Oleh Hidayat Taufik pada 10 Sep 2026, 11:31 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com -  Partai politik kini tidak hanya mengandalkan struktur organisasi dan kampanye tatap muka untuk menjaring dukungan.

Media sosial menjadi salah satu ruang yang semakin diperhitungkan, termasuk melalui keterlibatan influencer.

Para pemengaruh dinilai memiliki kemampuan menjangkau kelompok masyarakat yang aktif menggunakan platform digital.

Karena itu, kehadiran mereka mulai dimanfaatkan untuk memperkenalkan figur, menyampaikan pesan politik, sekaligus membangun interaksi dengan calon pemilih.

Meski demikian, penggunaan influencer belum otomatis menjamin bertambahnya suara sebuah partai.

Efektivitasnya sangat bergantung pada kemampuan membangun pesan yang mudah dikenali dan melekat dalam ingatan publik.

Pengamat politik Universitas Sebelas Maret (UNS), Agus Riewanto, melihat influencer memiliki peran penting dalam membentuk perhatian masyarakat terhadap tokoh maupun isu politik.

"Efektivitasnya bukan di debat kebijakan, tapi di "top of mind". Influencer mengubah politik jadi fandom. Siapa paling viral, dia yang menang," tutur pengamat politik dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Agus Riewanto, dikutip dari berbagai sumber, Kamis (10/9/2026).

Agus menilai ruang politik di media sosial memiliki potensi besar karena pola konsumsi informasi masyarakat telah banyak bergeser ke platform digital. Situasi ini membuat konten politik berpeluang menjangkau pemilih dalam jumlah besar dalam waktu relatif singkat.

Ia kemudian menyinggung Pilpres 2024 sebagai salah satu gambaran bagaimana media sosial dapat digunakan untuk membangun citra dan narasi politik.

Pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dinilai mampu mengemas pesan kampanye dengan gaya yang lebih mudah diterima pengguna media sosial.

"Menang karena memonetisasi meme, joget gemoy, dan buzzer-influencer menjadi narasi 'merakyat'," kata Agus.

Menurut Agus, pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD juga menggunakan influencer selama masa kampanye Pilpres 2024. Namun, strategi tersebut dinilai belum menghasilkan narasi yang cukup kuat dan berkelanjutan untuk menandingi pesan politik yang dibangun Prabowo-Gibran.

Bagi Agus, influencer memiliki keunggulan dalam menjaga sebuah nama, gagasan, maupun isu agar terus mendapatkan perhatian masyarakat. Frekuensi kemunculan dan daya sebar konten menjadi faktor penting dalam membentuk ingatan publik.

TikTok Diprediksi Makin Berpengaruh pada Pemilu 2029

Agus melihat perkembangan politik digital akan semakin menentukan dalam Pemilu 2029. Ia bahkan memperkirakan pesta demokrasi mendatang dapat menjadi momentum ketika TikTok memainkan peran yang jauh lebih besar dalam kampanye politik.

Menurut dia, perubahan tersebut tidak terlepas dari semakin tingginya ongkos kampanye melalui cara-cara konvensional. Media sosial menawarkan alternatif yang dapat menjangkau audiens dalam jumlah besar dengan biaya yang relatif lebih rendah.

Sebuah konten yang berhasil menjadi viral, kata Agus, bahkan bisa mendapatkan puluhan juta penayangan.

"Parpol yang tidak punya divisi "creator" akan kalah di algoritma. Kita akan lihat kaderisasi berbasis jumlah follower, bukan masa kerja partai," pandang Agus.

Kondisi tersebut membuat partai politik menghadapi tantangan baru. Selain memperkuat jaringan dan kader di tingkat akar rumput, partai juga perlu memahami cara kerja platform digital serta pola komunikasi yang disukai pengguna media sosial.

Dengan semakin besarnya peran media sosial, persaingan politik menuju 2029 diperkirakan tidak hanya berlangsung di ruang pertemuan atau lapangan.

Perebutan perhatian publik di dunia digital juga akan menjadi bagian penting dalam membangun elektabilitas dan dukungan pemilih.