JAKARTA, Cobisnis.com - Belum genap dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sejumlah partai politik mulai menyuarakan dukungan agar Prabowo kembali maju dalam Pilpres 2029.
Namun, menariknya, dorongan tersebut tidak disertai dengan dukungan terbuka agar Prabowo kembali berpasangan dengan Gibran untuk periode 2029–2034.
Peneliti senior politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Lili Romli, menilai langkah partai-partai tersebut sebagai pilihan yang realistis. Menurutnya, sebagai bagian dari koalisi pemerintahan, partai-partai merasa tidak enak hati jika tidak kembali memberikan dukungan kepada Prabowo yang berstatus sebagai petahana.
Selain faktor etika koalisi, posisi Prabowo sebagai presiden aktif dengan tingkat popularitas tinggi dinilai memberi peluang kemenangan besar pada kontestasi politik mendatang. Di sisi lain, partai-partai juga belum memiliki figur alternatif dengan tingkat elektabilitas yang sebanding, sehingga mencalonkan tokoh lain dianggap berisiko secara politik.
Terkait tidak munculnya dukungan terhadap duet Prabowo–Gibran, Lili menyebut adanya beberapa pertimbangan penting. Salah satunya adalah masih kuatnya memori publik terhadap kontroversi pencalonan Gibran pada Pilpres 2024, yang dinilai dapat berdampak negatif pada elektabilitas partai pengusung.
Selain itu, citra kinerja Gibran yang kerap mendapat penilaian negatif dari publik juga menjadi faktor penghambat. Hal ini membuat partai-partai lebih berhati-hati dalam menentukan pasangan calon.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah kepentingan internal partai. Banyak partai dinilai ingin mengusung kader sendiri atau tokoh lain sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo pada Pilpres 2029, sehingga opsi duet Prabowo–Gibran tidak menjadi pilihan utama.