JAKARTA, Cobisnis.com – Pasar kripto kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Jumat (27/2/2026), dengan pelemahan terjadi pada aset utama hingga altcoin dan memecoin.
Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin turun 2,01% dalam 24 jam terakhir ke level US$ 67.235 atau sekitar Rp 1,12 miliar dengan asumsi kurs Rp 16.793.
Secara kumulatif dalam sepekan, Bitcoin juga terkoreksi 1,21%. Angka ini menunjukkan tekanan jual masih membayangi pasar meski sempat terjadi penguatan sehari sebelumnya.
Pada Kamis (26/2), Bitcoin sempat menyentuh US$ 68.060. Namun reli tersebut tidak bertahan lama karena sentimen pasar dinilai belum cukup kuat menopang kenaikan.
Pelemahan juga terjadi pada Ethereum (ETH) yang turun 3,34% dalam 24 jam ke posisi US$ 2.009 atau sekitar Rp 33,74 juta. Meski begitu, secara mingguan ETH masih menguat 1,75%.
Token lain seperti BNB melemah 0,89% ke US$ 623,96. Sementara Solana (SOL) terkoreksi 2,6% ke level US$ 86,07.
Untuk stablecoin, Tether (USDT) relatif stabil dan menguat tipis 0,02% di level US$ 1. Pergerakan ini mencerminkan kecenderungan investor mencari aset lindung nilai sementara.
Di sisi lain, memecoin seperti Dogecoin (DOGE) turun 3,13% ke harga US$ 0.09680. Koreksi ini menandakan volatilitas masih tinggi di aset berisiko.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai tekanan datang dari aksi jual investor jangka pendek yang masih mencatat kerugian sejak akhir Januari.
Selain itu, arus dana institusional di produk ETF Bitcoin belum sepenuhnya pulih. Beberapa manajer investasi bahkan dilaporkan mengurangi eksposur kripto pada akhir 2025.
Menurutnya, struktur pasar saat ini berada dalam kondisi negative gamma, yang membuat pergerakan harga lebih agresif ke dua arah. Reli jangka pendek dinilai masih rentan koreksi jika aliran dana belum konsisten.
Meski ada sinyal teknikal seperti RSI keluar dari area oversold dan tekanan jual mulai mereda, pasar kripto dinilai belum sepenuhnya stabil secara fundamental.
Situasi ini menunjukkan bahwa volatilitas kripto masih menjadi faktor utama yang perlu dicermati investor, terutama di tengah ketidakpastian arus modal global.