Pasar Masih Cemas, Harga Minyak Belum Turun Meski Ada Sinyal Damai

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 01 Apr 2026, 13:19 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Harga minyak dunia masih tinggi meski Amerika Serikat memberi sinyal akan keluar dari konflik dengan Iran, menunjukkan pasar belum benar-benar tenang.

Kontrak minyak Brent untuk pengiriman Juni tercatat naik 1,5% menjadi US$ 105,56 per barel. Kenaikan ini melanjutkan tren reli kuat sepanjang Maret.

Secara bulanan, harga Brent melonjak lebih dari 60% selama Maret 2026. Ini menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak tahun 1988.

Sementara itu, minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) juga naik 1,5% ke level US$ 102,92 per barel. Sepanjang Maret, WTI menguat sekitar 51%.

Lonjakan harga ini terjadi meski Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menarik pasukan dalam dua hingga tiga minggu. Pernyataan tersebut belum cukup meredam kekhawatiran pasar.

Pasar energi global masih fokus pada ketegangan di Selat Hormuz. Jalur vital distribusi minyak dunia ini dinilai menjadi kunci utama stabilitas harga.

Trump menegaskan bahwa AS akan segera keluar dari konflik tanpa harus menunggu kesepakatan dengan Iran. Namun pernyataan ini belum sepenuhnya dipercaya pelaku pasar.

Di sisi lain, Iran membantah adanya proses negosiasi resmi dengan AS. Komunikasi yang terjadi disebut hanya sebatas pertukaran pesan.

Ketegangan makin meningkat setelah serangan drone Iran ke fasilitas energi di kawasan Timur Tengah. Ancaman terhadap perusahaan-perusahaan AS juga menambah kekhawatiran.

Garda Revolusi Iran bahkan menyebut 18 perusahaan AS sebagai target potensial. Situasi ini memperbesar risiko gangguan pasokan energi global.

Analis menilai ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama pendorong harga. Selama konflik belum mereda, tekanan pada harga minyak diperkirakan akan bertahan.

Kenaikan harga minyak ini mulai berdampak ke berbagai sektor, termasuk inflasi dan biaya energi global. Kondisi ini juga berpotensi menekan daya beli masyarakat di banyak negara.