JAKARTA, Cobisnis.com - Ekonomi Vietnam menunjukkan kinerja yang semakin kuat pada kuartal II 2026. Produk domestik bruto atau PDB negara tersebut tumbuh 8,39 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 7,94 persen pada kuartal sebelumnya.
Capaian tersebut melampaui perkiraan dan semakin memperkuat posisi Vietnam sebagai salah satu pusat manufaktur utama di Asia Tenggara. Pemerintah Vietnam pun membidik pertumbuhan ekonomi di atas 10 persen sepanjang 2026 dengan dukungan belanja infrastruktur yang terus meningkat.
Meski demikian, tantangan eksternal masih membayangi perekonomian Vietnam. Kondisi geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah, dinilai berpotensi memengaruhi laju pertumbuhan, sementara inflasi pada kuartal II tercatat 4,69 persen atau turun dari 5,6 persen pada Mei.
Di sektor perdagangan, ekspor Vietnam pada Juni 2026 tumbuh 28,1 persen secara tahunan menjadi 50,79 miliar dolar AS. Namun, impor meningkat lebih tinggi, yakni 45,2 persen menjadi 53,43 miliar dolar AS sehingga terjadi defisit perdagangan bulanan sebesar 2,64 miliar dolar AS.
Sepanjang semester pertama 2026, defisit perdagangan Vietnam mencapai 16,65 miliar dolar AS. Angka tersebut berbalik dari periode yang sama tahun lalu yang masih mencatat surplus sebesar 7,95 miliar dolar AS.
Peningkatan impor juga terlihat pada sektor energi. Nilai impor minyak mentah dan bahan bakar olahan meningkat meski volume minyak mentah yang didatangkan justru mengalami penurunan.
Di tengah tekanan perdagangan, aktivitas ekonomi domestik tetap menunjukkan tren positif. Produksi industri pada Juni tumbuh 12,7 persen, penjualan ritel naik 14,8 persen, sementara arus investasi asing mencapai 13 miliar dolar AS pada semester pertama 2026 atau meningkat 11,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.