JAKARTA, Cobisnis.com – Senate Intelligence Committee mencatat sejumlah perbedaan penting antara penjelasan pejabat intelijen Amerika Serikat dan klaim pemerintah terkait konflik dengan Iran.
Tulsi Gabbard menyatakan program pengayaan nuklir Iran telah hancur setelah operasi militer Juni lalu dan hingga kini belum terlihat upaya pembangunan ulang.
Pernyataan itu berbeda dari klaim Donald Trump yang sebelumnya menyebut Iran kembali mengembangkan program nuklir dan mendekati kemampuan senjata.
John Ratcliffe juga tidak mendukung penuh pernyataan bahwa Iran segera memiliki rudal balistik antarbenua yang dapat menjangkau Amerika Serikat dalam waktu dekat.
Dalam sidang tersebut para pejabat intelijen juga tidak secara tegas menyatakan Iran sebagai ancaman yang bersifat sangat mendesak bagi wilayah Amerika Serikat.
Perdebatan semakin menguat setelah pengunduran diri Joe Kent yang menilai ancaman Iran telah dibesar-besarkan untuk membenarkan keputusan perang.