JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintah menyiapkan pengembangan kapasitas pembangkit listrik hingga 100 gigawatt (GW) untuk memperkuat sistem kelistrikan nasional sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2050-2060.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan rencana tersebut saat membuka Electricity Connect 2026 di Tangerang, Banten, Selasa (22/9/2026).
“Indonesia tak akan bergeming dan tetap konsisten untuk memenuhi target net zero emission kita di 2050 sampai tahun 2060. Caranya bukan hanya tema, langsung dibuat program konkret. Di RUPTL kita dorong 70 persen energi baru terbarukan dan kita menambah 100 gigawatt,” tegas Bahlil, dikutip dari berbagai sumber, Rabu (23/9/2026).
Pemerintah juga mendorong peningkatan porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) hingga 70 persen dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), sementara kebutuhan investasi untuk pengembangan kelistrikan tersebut diperkirakan mencapai USD70-73 miliar.
Khusus program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp, pemerintah masih melakukan penyesuaian dan revisi RUPTL sebagai landasan pelaksanaannya.
Bahlil mengatakan pembangunan PLTS 100 GW tersebut direncanakan berlangsung selama tiga tahun, dengan sekitar 5,5 GW telah diluncurkan sebagai tahap pertama dan kapasitas sekitar 25-30 GW masuk dalam perencanaan tahap berikutnya.
Pengembangan infrastruktur kelistrikan juga mencakup pembangunan jaringan transmisi sepanjang sekitar 48.000 kilometer sirkuit untuk mendukung penambahan kapasitas pembangkit.
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyatakan sektor ketenagalistrikan siap menjalankan arahan pemerintah melalui pembangunan kapasitas baru dan penguatan jaringan transmisi nasional.
“Jawabannya hanya satu, siap Bapak laksanakan. Epicentrum the new development of energy ada di Indonesia,” ujar Darmawan.
Pemerintah juga menekankan kolaborasi dengan pelaku usaha, akademisi, dan investor serta penggunaan komponen dalam negeri untuk mendukung pembangunan pembangkit dan infrastruktur kelistrikan.