JAKARTA, Cobisnis.com - Israel berada dalam status siaga militer tertinggi menjelang pelaksanaan pemilu sela Amerika Serikat (AS) pada 3 November 2026. Peningkatan kesiagaan ini dipicu kekhawatiran akan kemungkinan kembali pecahnya konflik bersenjata dengan Iran.
Pemilu sela AS digelar di tengah masa jabatan kedua Presiden Donald Trump dari Partai Republik. Pemungutan suara tersebut akan menentukan seluruh 435 kursi DPR, 35 kursi Senat, serta posisi gubernur di 36 negara bagian. Selain itu, sejumlah jabatan pemerintahan lokal dan usulan kebijakan juga diperebutkan.
Trump sebelumnya berulang kali menyatakan tidak akan melancarkan serangan baru terhadap Iran sebelum pemilu sela berlangsung. Namun, ia memberikan sinyal bahwa operasi militer AS masih berpeluang dilanjutkan setelah pemungutan suara selesai.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mendorong Washington untuk kembali menyerang Iran. Langkah tersebut disebut-sebut memiliki tujuan lebih jauh, yakni menggulingkan pemerintahan Teheran. Meski demikian, sejumlah pejabat Israel mengakui keputusan akhir tetap berada di tangan Gedung Putih.
Media Israel, Walla, seperti dikutip Middle East Monitor pada Selasa (3/11/2026), melaporkan bahwa militer Israel mempertahankan tingkat kewaspadaan tinggi. Tel Aviv mengantisipasi kemungkinan serangan mendadak dari Iran, baik secara langsung maupun melalui kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya.
Ancaman tersebut dinilai tidak hanya menyasar wilayah Israel, tetapi juga berpotensi mengarah pada kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Laporan yang sama menyebut badan intelijen Israel turut mengkhawatirkan kemungkinan Iran melakukan provokasi militer dalam skala besar. Situasi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi dinamika politik menjelang pemilu sela AS.
Dalam beberapa pekan terakhir, Israel juga disebut telah memperkuat kemampuan pertahanan dan persiapan militernya untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan Komando Pusat AS (CENTCOM) dan Pentagon.