JAKARTA, Cobisnis.com – Kecerdasan buatan atau AI menjadi salah satu isu yang dibahas para pemimpin dunia dalam Debat Umum sesi ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (22/9/2026).
Pembahasan tersebut mencakup kebutuhan menjaga keamanan dan pengawasan AI sekaligus mempertahankan ruang bagi inovasi dan kerja sama internasional, sejalan dengan agenda sidang umum PBB yang berlangsung pada 22-28 September 2026.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan koordinasi global yang lebih kuat untuk mengelola risiko AI, termasuk gagasan membangun kerangka kerja manajemen risiko AI multilateral dengan pengawasan independen.
“Bahayanya bukanlah teknologi itu sendiri. Bahayanya adalah teknologi tanpa akuntabilitas,” ujar Guterres seraya mendorong negara-negara yang berada di garis depan pengembangan AI untuk memperkuat dialog, transparansi, kepercayaan, dan kerja sama.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan posisi berbeda dengan menolak upaya membangun skema global untuk mengendalikan AI dan mengatakan AS akan mendorong pengembangan teknologi tersebut.
“Kami akan mendorongnya, bukan membatasinya,” sebut Trump, seraya mengatakan AS tetap akan memantau teknologi tersebut secara ketat dan mengembangkan AI secara aman serta bertanggung jawab.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menekankan perlunya setiap kawasan membangun kapasitas teknologi sendiri sekaligus memiliki kemampuan untuk mengawasi sistem AI secara independen.
“Kita harus membangun kapasitas untuk mengaudit model-model ini, alih-alih bergantung pada segelintir pihak swasta,” ujar Macron.
Macron juga menyatakan persaingan pengembangan frontier AI sedang berlangsung dan menyerukan peningkatan kerja sama internasional untuk penggunaan AI di sektor sensitif seperti antariksa, pertahanan, dan keamanan siber.
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva turut menyoroti konsentrasi kekuatan teknologi dan memperingatkan risiko pengembangan AI oleh segelintir perusahaan tanpa batasan etis.
“Jika kita tidak mengatasi tantangan dalam meregulasi raksasa-raksasa teknologi dan AI, itu akan menjadi kelalaian sejarah yang tak termaafkan,” tutur Lula.
Sementara itu, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyoroti kemungkinan manfaat AI tidak terdistribusi secara merata dan menilai perkembangan teknologi tersebut dapat memperlebar ketimpangan jika tidak dipersiapkan dengan baik.
Lee menyampaikan rencana Korea Selatan mendirikan pusat AI global yang melibatkan organisasi internasional, bank pembangunan multilateral, industri, dan akademisi untuk memanfaatkan AI dalam menghadapi tantangan seperti perubahan iklim, kesehatan, dan ketahanan pangan.
Pembahasan mengenai AI kemudian berlanjut pada Rabu (23/9/2026) melalui pertemuan Dewan Keamanan PBB yang membahas kaitan AI dengan keamanan internasional.