JAKARTA, Cobisnis.com – Siri kini menjadi salah satu asisten digital paling dikenal di dunia. Namun, para penciptanya mengungkap bahwa visi awal teknologi tersebut belum sepenuhnya terwujud.
Dag Kittlaus dan Adam Cheyer merupakan dua sosok di balik lahirnya Siri. Bersama Tom Gruber, mereka mendirikan perusahaan rintisan pada 2007 untuk mengembangkan konsep asisten digital generasi baru.
Ide tersebut berawal dari penelitian yang mereka lakukan di Stanford Research Institute. Karena itu, Siri sejak awal dirancang untuk menawarkan pengalaman yang berbeda dari mesin pencari konvensional.
Kittlaus dan Cheyer tidak ingin Siri hanya membantu pengguna menemukan informasi. Sebaliknya, mereka ingin teknologi itu mampu menyelesaikan tugas dan tindakan secara langsung.
Mereka menyebut konsep tersebut sebagai “do engine”. Istilah itu menggambarkan sistem yang berfokus pada penyelesaian pekerjaan, bukan sekadar pencarian informasi.
Menurut Cheyer, mesin pencari seperti Google membantu pengguna menemukan halaman web. Namun, Siri dirancang untuk membantu pengguna menyelesaikan berbagai kebutuhan secara langsung.
“Jika Anda ingin menemukan halaman web, gunakan mesin pencari seperti Google. Jika ingin menyelesaikan sesuatu, gunakan ‘do engine’ seperti Siri,” kata Cheyer dalam wawancara pada Agustus.
Selain itu, para pendiri Siri telah lama memikirkan masa depan teknologi setelah era mesin pencari. Mereka percaya interaksi manusia dengan teknologi akan semakin mengarah pada asisten cerdas yang mampu mengambil tindakan.
Meski Siri kini hadir di miliaran perangkat Apple di seluruh dunia, para penciptanya menilai visi awal tersebut masih dalam proses menuju kenyataan. Sementara itu, perkembangan kecerdasan buatan generatif kembali membuka peluang untuk mewujudkan konsep yang mereka bayangkan hampir dua dekade lalu.
Karena itu, persaingan teknologi AI saat ini dianggap sebagai langkah penting menuju era baru asisten digital yang lebih proaktif dan mampu menyelesaikan berbagai tugas pengguna secara mandiri.