JAKARTA, Cobisnis.com – Ajang penghargaan film Inggris atau British Academy of Film and Television Arts (BAFTA) di London, Minggu malam, sempat terganggu insiden tak terduga ketika seorang pria berteriak mengucapkan kata bernada rasis saat dua aktor ternama, Michael B. Jordan dan Delroy Lindo, tengah berada di atas panggung.
Pria tersebut diketahui bernama John Davidson, sosok yang menjadi inspirasi film independen Inggris “I Swear,” yang mengangkat kisah tentang seseorang dengan Tourette Syndrome. Davidson memang dikenal aktif mengampanyekan kesadaran tentang kondisi tersebut dan sebelumnya telah menyampaikan kekhawatirannya terkait kemungkinan munculnya tic atau gejala tak terkendali saat acara berlangsung.
Tourette Syndrome merupakan gangguan neurologis yang ditandai dengan gerakan atau ucapan spontan yang tidak dapat dikendalikan, termasuk dalam beberapa kasus berupa kata-kata kasar yang keluar secara involunter. Sebelum acara dimulai, penonton telah diberi peringatan bahwa mungkin akan terjadi tic atau ucapan spontan. Davidson bahkan menerima tepuk tangan meriah saat diperkenalkan di dalam gedung.
Setelah insiden terjadi, pembawa acara Alan Cumming meminta pengertian dari para hadirin atas “bahasa yang kuat dan ofensif” tersebut. Ia menegaskan bahwa Tourette Syndrome adalah disabilitas dan gejala yang muncul bersifat tidak disengaja. “Kami meminta maaf jika Anda merasa tersinggung malam ini,” ujarnya.
Pihak BBC yang menayangkan acara dengan jeda siaran juga menyampaikan pesan serupa, meski tidak menjelaskan alasan momen tersebut tidak dipotong saat tayang di televisi. Lindo terlihat terkejut sesaat setelah teriakan itu terdengar, namun ia dan Jordan tetap melanjutkan acara dengan mempresentasikan penghargaan efek visual terbaik kepada film “Avatar: Fire and Ash.”
Film “I Swear” dan Persaingan Penghargaan
Film “I Swear” sendiri telah meraih pendapatan sekitar 8 juta dolar AS di box office Inggris dan dijadwalkan tayang di bioskop Amerika Serikat pada April mendatang. Aktor Robert Aramayo yang memerankan Davidson dalam film tersebut memenangkan penghargaan Aktor Terbaik malam itu.
Dalam pidato kemenangannya, Aramayo menyampaikan rasa tak percaya bisa berdiri di hadapan para nomine lain seperti Leonardo DiCaprio dan Ethan Hawke. Ia juga mengenang bagaimana ceramah Hawke di Juilliard pernah mengubah pandangannya sebagai mahasiswa akting.
Malam penghargaan BAFTA juga diwarnai sejumlah kejutan. Film “One Battle After Another” mendominasi dengan enam kemenangan, termasuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik untuk Paul Thomas Anderson. Sementara itu, “Hamnet” dinobatkan sebagai Film Inggris Terbaik, dan Jessie Buckley membawa pulang penghargaan Aktris Terbaik.
Meski BAFTA kerap berbeda pilihan dengan Academy Awards, dominasi “One Battle After Another” membuka kemungkinan film tersebut melanjutkan tren kemenangan di Oscar mendatang, menyusul jejak “Nomadland” dan “Oppenheimer” yang sebelumnya selaras antara BAFTA dan Oscar.
Insiden di panggung BAFTA ini pun memicu perbincangan global, menyoroti pentingnya pemahaman publik terhadap kondisi medis seperti Tourette Syndrome sekaligus sensitivitas terhadap bahasa rasis di ruang publik.