JAKARTA, Cobisnis.com – Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, memerintahkan pasukan negaranya untuk tetap menutup jalur strategis Selat Hormuz di tengah konflik yang memanas di Timur Tengah.
Perintah tersebut disampaikan Mojtaba Khamenei setelah beberapa hari tidak muncul di publik. Ia sebelumnya dilaporkan terluka akibat serangan udara yang terjadi dalam eskalasi perang antara Iran dan koalisi Amerika Serikat serta Israel.
Dalam pernyataannya, Mojtaba menegaskan bahwa strategi blokade Selat Hormuz harus benar-benar dijalankan oleh militer Iran. Jalur laut tersebut dinilai menjadi alat tekanan strategis dalam menghadapi lawan.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia. Sekitar seperempat perdagangan minyak global yang dikirim melalui jalur laut melintasi wilayah sempit tersebut setiap harinya.
Penutupan jalur tersebut berpotensi menimbulkan gangguan besar terhadap pasokan energi dunia. Dampaknya bisa langsung terasa pada harga minyak global dan stabilitas pasar energi internasional.
Mojtaba juga menyerukan sikap keras terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ia menyatakan tekad untuk membalas serangan yang sebelumnya menewaskan ayahnya, Ali Khamenei, dalam gelombang awal serangan udara.
Selain menyerukan balasan militer, Mojtaba juga meminta negara-negara Teluk menutup pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di wilayah mereka. Pernyataan tersebut menambah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menindaklanjuti perintah tersebut, Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran, Alireza Tangsiri, menegaskan kesiapan pasukannya menjalankan strategi blokade.
Ia menyatakan militer Iran siap memberikan pukulan keras kepada pihak yang dianggap sebagai agresor. Strategi penutupan Selat Hormuz disebut tetap menjadi bagian penting dari respons militer Iran.
Dalam beberapa hari terakhir, aktivitas pelayaran di sekitar Selat Hormuz dilaporkan hampir terhenti. Sejumlah kapal yang mencoba melintas di kawasan Teluk juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran global karena jalur tersebut merupakan urat nadi perdagangan energi dunia. Gangguan di wilayah itu dapat memicu lonjakan harga minyak serta memperburuk ketegangan geopolitik.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi tekanan politik yang semakin meningkat. Hal ini dipicu dampak ekonomi global dari konflik yang terus berkembang.
Kenaikan harga minyak yang telah menembus lebih dari US$100 per barel menjadi salah satu konsekuensi dari ketegangan tersebut. Kondisi ini memperlihatkan betapa besar pengaruh konflik Timur Tengah terhadap stabilitas ekonomi global.